Synthesis of carbon nanotubes by catalytic chemical vapour deposition:
A review on carbon sources, catalysts and substrates
Khurshed A. Shah, Bilal A.Tali
Nanomaterials Research Laboratory, Department of Physics, Govt. Degree
ollege for Women, K.P. Road, Anantnag 192101, India
Material Science in Semiconductor Processing 41 (2016) 67-82
Abstrak
Carbon Nanotubes
(CNTs) telah dikaji secara extensif selama dua dekade yang lalu dan tehnik
Catalytic Chemical Vapour Deposition (CCVD) tanpa lelah digunakan oleh
peneliti untuk menghasilkan CNT dengan berbagai konfigurasi kristalografi.
Dalam paper ini, aspek material sumber karbon, katalis dan substrat dengan
sistesis CCVD CNT direview secara jelas dengan perkembangan terbaru dan
memahami akan bidang tersebut. Peran material dalan sintesis CNT untuk
menjelaskan keterbaruan literatur yang ditinjau. Laporan penelitian terbaru
dan temuannya disajikan yang berhubungan dengan aspek yang mempengaruhi
penumbuhan seperti temperatur, tekanan uap dan konsentrasi katalis pada
pembentukan CNT. Selain penemuan terbaru, juga akan dibahas penumbuhan
istimewa dari CNT. Dari literatur review ini ditemukan bahwa diffusibilitas
karbon dan solubilitas karbon pada berbagai katalis merupakan dua faktor
penting yang menentukan nukleasi dan penumbuhan CNT. Bahkan, katalis
terentu pada beberapa katalis logam transisi dapat diperbaiki untuk
memperbaiki kinerja katalis dengan tambahan air, udara, alkohol dll. Selama
proses CCVD dapat meningkatkan aktivitas dan garansi hidup katalis selain
untuk meningkatkan hasil CNT.
1.
Pendahuluan
Pasaran CNT menjadi panas/laku disebabkan karena aplikasi komersial yang
berbeda beda dan setiap tahun terdapat sejumlah publikasi jurnal CNT dan
hak paten terus dikembangkan. Hal ini disebabkan sifat mekanik, elektrik
dan optikalnya yang luar biasa, CNT telah mendorong penelitian secara
ekstensif sejak ditemukan oleh Sumio Iijima di awal tahun 1990an
sebagaimana telah dilaporkan pada tahun 1952 oleh Radushkevich dan
Lukyanovich. Idealnya CNT digambarkan sebagai silinder graphene berskala
nano (yang dibentuk oleh lembar graphite satu atom tipis tergulung yang
disebut graphene) yang ujungnya tertutup oleh setengah molekul fullerene,
yang terdiri dari dua tipe, struktur yang terdiri hanya satu silinder yang
disebut Single Walled Carbon Nanotubes (SWCNTs) yang pertama kali
diobservasi oleh Iijima dan Ichihashi di tahun 1993, sedangkan struktur
yang terdiri dari dua atau lebih silinder graphene konsentris yang disebut
Multi-Walled Carbon Nanotubes (MWCNTs). Idealnya SWCNTs diklasifikasikan
menjadi tiga berdasarkan kristalografi yaitu zigzag, armchair dan chiral,
bergantung bagaimana lembaran graphene tergulung. Pada konfigurasi zigzag,
ikatan C-C yang berhadapan di setiap hexagon adalah paralel terhadap sumbu
tabung, sedangkan bentuk armchair yaitu ikatan C-C tegak lurus terhadap
sumbu, selain susunan tersebut, ikatan C-C yang berlawanan yang terletak
pada sudut sumbu tabung, menghasilkan nanotube spiral yang disebut
chiral.
SWCNT dapat bersifat logam atau semikonduktor yang mempunyai celah pita
antara 0.4 sampai 2 eV, namun MWCNTs yang memiliki celah pita nol akan
bersifat logam (dalam kasus MWCNTs dimana konduksi listrik melalui kulit
terluar dan diameter nanotube terluar besar akan menghasilkan
celah pita 0 eV), sehingga sifat listrik keduanya berbeda. Perbedaan ini
disebabkan karena cara tergulungnya lembar graphene dengan berbagai
variabel di sepanjang tingginya dan menghasilkan SWCNT sehingga memiliki
berbagai struktur chiral. Rentang diameter SWCNT (0,4-3 nm) lebih kecil
dari MWCNT, karenanya SWCNT menarik untuk dibuat material elektronik nano.
Jumlah dinding MWCNT dapat bervariasi dari 2 sampai > 100 dan biasanya
penumbuhannya tegak lurus terhadap substrat. Bahkan, panjang MWCNT yang
lurus secara vertikal, relatif lebih mudah untuk diukur.
Pada tahun 2006 karbon berstruktur nano ditemukan yang disebut sebagai few walled carbon nanotubes (FWCNTs) telah dilaporkan terdiri dari
2 – 6 lapisan dinding, panjangnya sekitar 10 mikrometer dan diameter dalam
rentang 2 – 8 nm. Mereka memiliki sifat elektronik dan mekanik yang luar
biasa ketika lapisan terluar nanotubes difungsikan pada sejumlah
aplikasi yang berhubungan dengan medan emisi dan generasi CNT selanjutnya
diperkuat berbasis material komposit. Terdapat beberapa golongancarbon nanostructure yang disebut sebagai carbon nanofibers (CNFs) yang memiliki morfologi yang unik pada
graphene yang terbalik dari sumbu serat menghasilkan tepi bidang yang
terekspos pada permukaan interior dan eksterior pada serat. Yang disebut
sebagai stacked-cup carbon nanotubes (SCCNTs). Diamteer CNFs
berada pada rentang 50 – 200 nm dan dihasilkan dengan cara yang sama ketika
menghasilkan CNTs, sehingga terdapat perbedaan yang jelas, berdampak pada
kinerja dan aplikasi secara komersial.
CNT juga terbukti memiliki aspek rasio yang luar biasa dan panjangnya
ditemukan beberapa centimeter. Sifat kekuatan CNT bergantung pada
strukturnya seperti diameter. SWCNTs dan MWCNTs memiliki area permukaan
yang tinggi per satuan berat, sifat mekanik yang baik, konduktivitas
listrik yang tinggi pada keadaan logam dan konduktivitas temal yang tinggi.
Sifat CNT yang menarik ini menyebabkan sekarang ini munculnya investigasi
aplikasi yang meluas. Review aplikasi CNTs ini, melaporkan
preparasi dengan metode yang berbeda dan produksi besar besaran. Berbagai
aplikasi CNT termasuk: elektromagnetik danmicrowave absorbing coatings, thermal interface materials, divais transport elektronik dan ionik
seperti aktuator, super kapasitor, baterai, fiber, sensor, pentimpanan
energi dan divais konversi energi, divais sumber radiasi dan semikonduktor
berukuran nanometer, nanotube dengan aspek rasio yang tinggi
(kawat konduktif listrik dengan diameter pada beskala nanometer) sebagai
medan emisi pada ujung untuk aplikasi seperti layar medan emisi, tabung
X-ray, sumber elektron untuk mikroskop dan litografi, tabung penyimpan gas, vacuum microwave amplifier, scanning probe tips. Selain
doping CNTs dapat juga disesuaikan dengan respon elektronik, oleh karena
itu CNTs dapat juga bertingak sebagai transistor atau unsur logik. Ikatan
kovalen yang kuat menyebabkan konduktivitas termal yang tinggi dan aspek
rasio CNTs yang tinggi dapat digunakan pada aplikasi interconnect.
Mereka juga dapat digunakan sebagai membran pada pemurnian air dan
pemisahan gas.
Aplikasi diatas akan terus dipikirkan untuk memperoleh tehnik sintesis yang
sesuai, sehingga dapat menghasilkan material dengan puritas yang tinggi
dengan jumlah yang banyak. Selanjutnya, penumbuhan yang dikontrol dengan
pola litografi yang tepat, dibutuhkan untuk aplikasi nano elektronik dan
fotonik untuk mengetahui bagaimana mengontrol sintesis CNTs menjadi hal
penting untuk mengintegrasikan berbagai teknologi berstruktur nano. Telah
ditemukan beberapa tehnik yang dikembangkan untuk sintesis CNTs, salah satu
yang terbaik adalah Catalyst Chemical Vapour Deposition (CCVD) yang sesuai
dengan kebutuhan diatas. Meskipun terdapat tehnik lain yang dapat digunakan
untuk sintesis seperti arc discharge dan laser ablation,
namun CVD merupaakn teknik yang serbaguna dan menjanjikan untuk
menghasilkan produksi massal dan integrasi divais secara langsung.
Hidrokarbon berbasis fosil dan tanaman adalah dua sumber karbon utam yang
digunakan untuk sintesis CNTs menggunakan metode CVD. Beberapa fosil bahan
bakar hidrokarbon adalah methane, gas alami, acetylene, benzene dll, adalah
sumber karbon yang lazim digunakan dalam penelitian CNTs. Beberapa juga
melaporkan kegunaan prekursor alami untuk sintesis CNTs seperti camphor, turpentine oil, minyak palm dll. Di sisi lain,
nanopartikel logam transisi (Fe, Ni dan Co) adalah katalis yang biasa
digunakan untuk penumbuhan CNTs. Namun, akhir akhir ini CNTs juga
ditumbuhkan dengan logam mulia, katalis nanopartikel keramik, dan
nanopartikel semikonduktor. Material dianggap tidak mampu mengkatalis
penguraian hidrokarbon dan bentuk bulk mereka tidak memiliki
fungsi katalis untuk menghasilkan graphite. Hal ini menyebabkan
interpretasi baru yang merupakan peran katalis dalam penumbuhan nanotube dimana hanya berperan pada lengkungan berskala nano dan
adsorpsi karbon. Untuk meningkatkan pemahaman secara struktural yang
dibutuhkan untuk CVD dalam mensintesisi CNT dan dikuatkan secara teori
tentang pentingnya katalis adalah sebagian yang turut menentukan lengkungan
partikel berskala nano.
Dalam penumbuhan CNTs melalui CCVD adalah pembentukan katalis logam
nanopartikel yang dibutuhkan tidak dilakukan di permukaan substrat.
Substrat membantu pembentukan nanopartikel dan substrat tertentu yang
digunakan secara meluas pada penelitian termasuk alumina, silikon dan
magnesium oxide. Namun, CNT untuk aplikasi elektronik, biasanya substrat
yang konduktif yang harus digunakan. Seperti kasus lapisan katalis yang
seharusnya lebih tipis untuk menghasilkan sisa katalis yang cukup untuk
mengkatalisasi penumbuhan CNT. Oleh karena itu untuk penumbuhan CNT
berkualitas tinggi akan menggunakan lapisan perintang difusi sebagai
tambahan diantara katalis dan substrat logam.
CNTs di seluruh dunia diinvestigasi secara ketat oleh pada saintis dan
enginer dengan beberapa metode variasi CCVD nanostuktur merupakan tehnik
yang sangat populer dan menjanjikan. Namun, sampai saat ini beberapa
artikel revies menyoroti parameter yang berperan, aspek material dll, namun
yang perlu diketahui bahwa artikel tersebut tidak membahas perkembangan
terbaru yang mengarah pada penumbuhan yang dikontrol oleh ciralitas,
bi-metal baru dan katalis tri-metal yang digunakan dengan ketat selama
beberapa tahun yang lalu dan sumber karbon baru. Oleh karena itu, memang
dibutuhkan pengkajian yang lengkap, mendalam dan review literatur secara
komprehensif untuk menghasilkan review literatur terbaru yang menggabungkan
beberapa perkembangan sesuai bidang tersebut. Paper ini bertujuan
menyediakan review terbaru kepada pembaca yang berkenaan dengan
perkembangan terbaru dan penemuan sintesis CNT menggunakan CCVD, dengan
pembahasan yang dibatasi dengan aspek material.
Studi ini disusun sebagai berikut penempatan katalis, substrat alami,
kontrol temperatur dan preparasi katalis yang memegang peranan penting
dalam menentukan sifat dasar dan konfigurasi yang dihasilkan. Namun, point
terpenting katalis terhadap penumbuhan yield yang istimewa dalam
menghasilkan CNT dengan arah diameter dan distribusi chiralitas. Pada
section selanjutnya disajikan perkembangan terbaru mengenai pengenalan
tehnik CVD terkhusus pada sumber karbon (prekursor) CNT, katalis CNT,
substrat CNT, perspektif kedepan dan kesimpulan dari paper ini.
2.
Tehnik Chemical Vapour Deposition (CVD)
Berbagai metode dalam menghasilkan CNT seperti arc discharge,chemical vapour deposition (CVD), laser ablation,flame synthesis, high pressure carbon monoxide (HiPco), electrolysis, pyrolysis dll. Namun, akhir akhir ini
metode yang sering digunakan adalah sintesis CNT menggunakan metode CVD
yang dapat dilakukan dengan sederhana dengan biaya yang rendah. Metode ini
awalnya bekembang pada tahun 1960an dan 1970an yang sukses digunakan dalam
menghasilkan karbon fiber dan karbon nanofiber. Pada tahun 1996 CVD muncul
kembali dengan metode yang berpotensi digunakan dalam skala besar dan untuk
mensintesis CNT.
Sintesis CNT melalui metode CVD, katalis dideposisi di atas permukaan
substrat dan selanjutnya katalis bernukleasi yang dibawa melalui pengetsaan
secara kimia (misal ammonia) atau anelling secara termal. Sebelum
menyiapkan material penyangga kemudian ditempatkan kedalam tabung reaktor
untuk proses penumbuhan. Setelah reaktor/furnace dipanaskan dan mencapai
temperatur (600oC – 1200oC), campuran gas hidrokarbon
(seperti ethylene, methane, acetylene dll) dan proses gas (nitrogen,
hidrogen dan argon) yang bereaksi didalam ruang diatas furnace katalis
logam selama satu periode (biasanya 15 – 60 menit) dan ketika berlangsung
dekomposisi dari karbon prekursor, CNT tumbuh pada partikel katalis didalam
reaktor yang terkumpul dari didnding reaktor dan di permukaan penyangga
setelah pendinginan menuju ke temperatur ruang. Partikel katalis dapat
berada diatas atau dibawah carbon nanotube.
Mekanisme penumbuhan CNTs walaupun terdapat beberapa kontroversi namun
semua berusaha membuat teori yang valid yang dapat terbukti secara
experimen dan secara teori. Walaupun, sebagian tahap dasar secara umum
menyatakan bahwa produksi CNT secara kimia tanpa memperhatikan apakah
penumbuhan terjadi pada fase gas atau pada permukaan penyangga.
Kenyataannya sekarang ada dua mekanisme penumbuhan CNTs yang diterima, VLS
(vapour-liquid-solid) dan VSS (vapour-solid-solid). Dalam mekanisme VLS
pertama tama gas hidrokarbon diserap dan dipisahkan pada permukaan dari
partikel katalis kebentuk dasar atom karbon, kedua atom karbon dilarutkan
kedalam katalis nanopartikel berbentuk cairan karbida metastabil dan
kemudia berdifusi kedalam partikel. Terakhir karbon padat mengendap di
ujung partikel membentuk carbon nanotube. Dalam mekanisme VSS pertama tama
gas hidrokarbon memisahkan diri dan selanjutnya atom karbon dissosiasi akan
berdifusi pada partikel katalis dan terakhir karbon mengendap dan membentuk
carbon nanotube. Bentuk fisik pengendapan karbon bergantung pada beberapa
parameter, termasuk ukuran partikel katalis dan laju pengendapan. Oleh
karena itu, mekanisme penumbuhan CNTs dengan proes CVD secara umum dibagi
menjadi dua metode yang berbeda: penumbuhan dasar/akar dan penumbuhan
ujung. Pada penumbuhan akar/dasar, partikel katalis teletak di permukaan
penyangga dan interaksi partikel penyangga menjadi hal yang
dipertimbangkan. Kebalikannyam mekanisme penumbuhan ujung mengambil tempat
ketika katalis terangkat dari penyangga permukaan selama penumbuhan CNTs
disebabkan oleh rendahnya interaksi penyangga dengan katalis. Secara
eksperimen telah dibuktikan mekanisme penumbuhan akar dan mekanisme
penumbuhan ujung yang dilakukan oleh Cassell dkk.
Ada beberapa cara lain yang digunakan dalam metode CVD sepertiwater assisted CVD, oxygen assited CVD,hot-filament CVD, microwave plasma CVD atau radiofrequency CVD. Secara historis dekomposisi katalis
hidrokarbon diketahui dapat menghasilkan karbon fiber sejak karbon filamen
dihasilkan melalui sianogen diatas porselen red-hot pada tahun
1890. Pada tahun 1980an, Endo mengembangkan reaktor katalis floating menggunakan partikel katalis berdiameter 10 nm. Metode
yang penggunaannya meluas ini, menggunakan prekursor aerosol dalam
menghasilkan CNT, dimana dalam pirolisis hidrokarbon karena adanya katalis
logam transisi (Fe, Ni, Co, dll), menghasilkan MWCNTs dan SWCNTs. Parameter
utama dalam penumbuhan CNT pada metode CVD adalah atmosfer/suasana, sumber
karbon, katalis dan penumbuhan temperatur. Temperatur rendah (300 o – 800oC) menghasilkan MWCNTs, sedangkan temperatur
tinggi (600o – 1150oC) biasanya menghasilkan SWCNTs. Double Walled Carbon Nanotubes (DWCNTs) dihasilkan menggunakan
tehnik CVD meliputi prosedur preparasi katalis yang komplit. Selanjutnya,
sampel DWCNTs secara umum juga terdiri SWCNTs dan Triple-Walled Carbon Nanotubes (TWCNTs).
CVD juga memungkinkan menghasilkan metode serbaguna dalam menghasilkan CNTs
yang didoping dengan ataom B, N atau keduanya. Yang mengizinkan penumbuhan
CNT berbagai bentuk, seperti bubuk, lapisan tipis, sejajar atau
terjerat/berimpit, lurus atau melingkar, bahkan menginginkan bangunan nanotube yang sesuai standar pada pola substrat. Bahkan, CCVD
dianggap sebagai cara yang paling disukai dalam menghasilkan CNTs dalam
skala besar dan murni jika dibandingkan dengan metode arc discharge dan laser ablation. Kedua hidrokarbon cair
seperti benzena, alkohol dll dan hidrokarbon padat seperti camphor, naphthalene digunakan sebagai prekursor dalam CVD. Jika
hidrokarbon padat digunakan sebagai prekursor CNT, maka dapat berlangsung
pada temperatur rendah di dalam tabung reaksi. Camphor, naphthalene, ferrocene dll, dimana material alami yang
tidak stabil secara langsung terjadi dari pada ke fase uap, dan CVD
dilakukan ketika katalis melewati zona temperatur tinggi. Ini berarti
seperti halnya prekursor CNT, prekursor katalis pada CVD juga dapat
digunakan pada berbagai bentuk, padat, cair atau gas.
Kelebihan metode CVD meliputi:
· Tehnik yang sederhana, ekonomis dan dapat terukur untuk produksi CNT
secara massal.
· Hidrokarbon sangat bermanfaat pada berbagai bentuk baik padat, cair dan
gas dan berbagai substrat.
· Juga dapat digunakan untuk penumbuhan CNTs dengan bentuk berbeda seperti
CNTs sejajar atau berimpit, lurus atau melingkar atau nanotube
dengan bentuk yang diinginkan sesuai pola pada substrat.
Permintaan CNTs ke seluruh dunia terus meningkat dari hari ke hari dan
dapat melebihi 1000 trilliun/tahun, namun harga jumlah besar SWCNTs dan
MWCNTs akan sangat tinggi mencapai 1 – 10 kali lipat dari harga carbon
fiber. Namun, tidak mungkin dapat dikontrol kemurnian dan sifat CNT dalam
skala industri. Karena itu untuk massa produksi masih perlu ditemukan
tehnik yang lebih tepat dan tehnik CVD merupakan tehnik yang menjanjikan
dalam menghasilkan CNT berskala besar, seperti ratusan perusahaan di
seluruh dunia yang sibuk menghasilkan dan mengkomersialisasikan CNTs dalam
skala besar. Beberapa tehnik yang dimiliki kelompok peneliti telah siapa
dibeli oleh beberapa industri.
Analisis CVD dalam mensintesis CNT, memeng merupakan tehnik yang sangat
populer dalam menghasilkan CNTs dan dipercaya sebagai metode yang cocok
dalam menghasilkan CNT yang berkualitas baik dan berskala besar. Selain itu
juga sangat sederhana, murah dan serbaguna dalam penumbuhan CNT dengan
bentuk yang berbeda. Tehnik ini membutuhkan sumber karbon yang dapat
berbentuk padat, cair dan gas, katalis berukuran nanopartikel dan substrat
sebagai material penyangga untuk katalis nanopartikel. Sintesis CNT melalui
metode CCVD meliputi beberapa parameter seperti hidrokarbon, katalis,
temperatur, tekanan, laju aliran gas, waktu deposisi, geometri reaktor dll.
Namun, untuk membatasi pembahasan ini, dengan mengacu pada judul paper,
maka hanya akan membahas tiga parameter antara lain: hidrokarbon, katalis
dan penyangga katalis (substrat).
3.
Sumber Karbon CNT
Struktur molekuler sumber karbon memiliki pengaruh yang kuat tehadap
morfologi dalam menghasilkan CNTs dan prekursor dan tekanan uap yang layak,
dapat meningkatkan laju penumbuhan CNT dan waktu hidup katalis. Hidrokarbon
linear seperti methane, ethylene, acethilene dll dapat menghasilkan CNT
hollow yang lurus yang didekomposisi secara termal ke dalam atom karbon
atau dimers/trimers karbon linear, sedangkan hidrokarbon cyclic seperti
benzene, xylene, fullerene, cyclohexene dll relatif menghasilkan CNTs
melengkung yang sering dijembatani oleh dinding tabung. Temperatur rendah
CVD menghasilkan MWCNTs, sedangkan prosedur temperatur tinggi menghasilkan
SWCNTs. SWCNT membutuhkan energi yang lebih tinggi dibanding ketika
membentuk MWCNTs dan memiliki diameter yang lebih kecil, kurva yang tinggi
dan tegangan energi yang tinggi. Inilah mengapa kebanyakan hidrokarbon
MWCNTs lebih mudah tumbuh dari SWCNTs, sedangkan penumbuhan SWCNTs dari
hidrokarbon yang dipilih yang bertanggungjawab terhadap stabilitas
temperatur tinggi seperti methane, carbon monoxide dll. Di sisi lain
efisiensi sumber karbon MWCNTs tidak stabil pada temperatur yang lebih
tinggi dan hal itulah yang menyebabkan pendeposisian senyawa karbon dalam
skala besar lebih dari nanotubes. Pada tahun 2010, Plata dkk,
menyampaikan beberapa pendapat hidrokarbon individu beserta dengan ethylene
dan hidrogen pada reaktor berdinding dingin yang mengandung katalis panas
lokal dan menunjukkan beberapa alkin untuk meningkatkan sintesis MWCNT.
Mereka mendemonstrasikan mekanisme pembentukan CNT yang berbeda dimana
prekursor yang mungkin utuh selama pembentukan ikatan C-C, merubah
hipotesis bahwa prekursor terpisah menjadi C atau C2 sebelum
pengendapan dari logam.
Berbagai penelitian juga menggunakan beberapa tipe sumber karbon untuk
mensintesis CNT dengan penumbuhan melalui CCVD kebanyakan menggunakan
methane, acethylene, ethane, benzene, ethylene, xylene, carbon monoxide,
isobutane dan ethanol. Selain itu senyawa organik lainnya seperti, polimer
tertentu, karbonisasi dari acrylonitrile, poly-furfuryl-alcohol dan amino-di-chloro-s-triazine
telah sukses digunakan untuk menumbuhkan CNTs. Sumber karbon alami untuk
sintesis CNTs seperti camphor, turpentine oil, eucalyptus oil,
minyak kelapa, minyak palm.
Awal penelitian sintesis CNT dengan metode CVD oleh Endo dkk, melaporkan
bahwa MWCNTs tumbuh pada suhu 1100oC pada nanopartikel besi
sebagai katalis dan menggunakan benzena sebagai sumber karbon, sedangkan
Jose-Yacaman dkk mensintesis MWCNTs spiral pada 700oC dari
achetylene pada katalis yang sama. MWCNTs juga dapat disintesis dari sumber
karbon yang lain termasuk fullerene. Disisi lain, penggunaan nanopartikel
Mo sebagai katalis, oleh Dai dkk pertama kali menghasilkan SWCNTs dari
karbon monoxide yang tidak seimbang pada temperatur 1200oC.
Kemudian, penelitian penumbuhan SWCNT dari ethylene, methane, benzene,
acetylene, fullerene dan cyclohexane dll. Maruyama dkk menggunakan alkohol
CVD dalam mensintesis SWCNTs dengan puritas yang tinggi temperatur rendah
pada Fe-Co dengan penyangga zeolite dan karena ethanol menjadi prekursor
CNT yang populer pada metode CVD selama ini karena penumbuhan CNTs dengan
ethanol menghasilkan bentuk yang bebas dari karbon amorf, yang dietsa
dengan OH. Bahkan dilaporkan bahwa ethanol CVD dapat menghasilkan SWCNTs
yang sejajar secara vertikal dan dengan memberikan achetylene yang
diselingi dengan ethanol secara signifikan dapat membantu ethanol untuk
meningkatkan aktivitas katalis sehingga meningkatkan penumbuhan laju CNTs.
Bahkan, Joshi pada tahun 2010 menumbuhkan CNTs super panjang dengan
menggunakan metode CCVD yang dibantu dengan hidrogen/air dan ethylene
senagai sumber karbon. Dari studi ini ditemukan bahwa hidrogen/air
seharusnya menentapkan rasio yang tepat untuk membentuk penumbuhan yang
super panjang bersama dengan susunan nanotubes berkualitas tinggi,
dan menuju ke arah partikel katalis dan lapisan penyangga dengan komposisi
permukaan yang kompleks.
Selain hidrokarbon populer yang disebutkan diatas, senyawa organik,
khususnya polimer telah digunakan untuk menghasilkan CNTs. Pada tahun 2009
Han dkk, beberapa sumber karbon yang sarat akan polimer contohnya pada
alumina sangat baik untuk mendefenisikan ukuran pori dan karbonisasi pada
rentang temperatur antara 400 – 600oC selama 3 jam untuk
menentukan MWCNTs pada diameter yang diinginkan. Sankaran dkk menghasilkan
MWCNTs yang didoping dengan N dari karbonisasi poly pyrrole ke
dalam alumina dan membran zeolit dimana menunjukkan kapasitas penyimpanan
hidrogen lebih baik dari MWCNTs murni yang dihasilkan dari poly phenyl acetylene pada kondisi yang sama. Selanjutnya,
pirolisis tri-propyl amine dengan kristal aluminophosphate (AFI) berskala nano (0,73 nm) menghasilkan
diameter SWCNT yang lebih kecil (o,4 nm) dan pirolisis amino-dichloro-s-triazine pada substrat silika berpola
menghasilkan CNTs dengan puritas yang tinggi.
Dekade yang lalu senyawa logam organik seperti metallocene (cobaltocene,
ferroce, nickelocene) dan nickel phthalocyanine digunakan sebagai sumber
karbon dengan katalis, namun, penumbuhan CNTs dengan enkapsulasi sangat
tinggi dan yield yang sangat rendah. Penelitian lain yaitu CNTs
Y-junction dibentuk melalui pirolisis thiophene dengan metallocene, dan
pirolisis sederhana saccharides pada temperatur tinggi 1300oC
menghasilkan MWCNTs lurus dan spiral. Beberapa tanaman pohon kamper
hidrokarbon digunakan secara luas oleh Kumar dkk menghasilkan MWCNTs,
SWCNTs dan Vertically-Aligned Carbon Nanotubes (VA-CNTs) pada substrat
quartz dan silikon. Camphor juga digunakan secara meluas untuk menghasilkan
CNTs produksi massal dan susunan CNT yang padat dan sangat tinggi. Namun,
akhir akhir ini Zdrejek dkk pada tahun 2015 mendemonstrasikan sintesis
SWCNTs dan MWCNTs menggunakan metode CCVD menggunakan sumber karbon alami
propane. Mereka menemuka bahwa volume SWCNTs dan MWCNTs dapat disesuaikan
sesuai temperatur penumbuhan.
Sebagai tambahan pada laporan diatas adalah, beberapa kelompok peneliti
seluruh dunia mengguakan berbagai material kombinasi untuk menghasilkan
VA-CNTs yang panjang, nanotubes bercabang, nanotube yang didoping dll.
Dalam proses CCVD Li dkk mensintesis MWCNTs lurus secara vertikal
menggunakan C2H2 sebagai sumber karbon dan NH 3 adalah logam katalis sebelum perlakuan, Cui dkk mensintesis
dinding tipis, CNTs yang didoping dengan N pada quartz slides
menggunakan acetonitrile sebagai sumber karbon dan ferrocene sebagai
katalis, Du dkk mensintesis SWCNTs panjang dan CNTs yang bercabang
menggunakan dimethyl sulphide (C2H6S) sebagai sumber
karbon dan Co/MgO sebagai katalis. Selanjutnya, Feng dkk mensintesis DWCNTs
pada satu tahap proses reaksi CCVD menggunakan acetone sebagai sumber
karbon, ferrocene sebagai sumber katalis Fe dan thiopene sebagai promotor
sintesis. Pada tahun 2012, VA-CNTs berdensitas tinggi untuk aplikasi
interconnect yang tumbuh pada dinding termal CVD yang dingin menggunakan
aliran gas acetylene sebagai sumber karbon dan pada tahun 2014
Ghorannesviss dkk mempelajari pengaruh penumbuhan temperatur terhadap
penumbuhan CNTs menggunakan ethanol sebagai sumber karbon. Selain itu, carbon nanotubes juga dapat disintesis dari bahan bakar lokal
seperti minyak tanah, LPG, gas batu bara, gas alami, limbah plastik, dan
rumput hijau sebagai sumber karbon.
SWCNT lebih baik dari MWCNTs pada aplikasi nano elektronik yang disebabkan
karena celah pita nanotube akan bergeser menyebabkan sedikit
perubahan pada diameter nanotubes dan sudut yang membentuk, namun
hubungan struktur dan kegunaannya dapat dieksploitasi seluruhnya hanya
dengan struktur alami SWCNTs. Tantangan terbesar selama dua dekade yang
lalu adalah menghasilkan satu tipe SWCNTs yang dikontrol oleh struktur
selama proses penumbuhan dan saat ini peneliti mencoba mengontrol
chiralitas SWCNTs selama proses penumbuhan. Di awal tahun 2013, Maoshuai He
dkk melaporkan penumbuhan CNTs yang istimewa dengan populasi tabung (6,5)
yang tinggi pada 500oC menggunakan CO sebagai sumber karbon,
sedangkan Yang dkk menunjukkan SWCNTs dengan chiralitas single (12,6) dapat
secara langsung dihasilkan dengan kelimpahan tungsten berbasis bimetallic alloy lebih besar dari 92% sebagai katalis dan ethanol
sebagai sumber karbon.
Dalam menganalisis penumbuhan CNT menggunakan metode CCVD biasanya
menggunakan sumber karbon methane, acetylene, ethane dan ethanol. Tambahan
acetylene dalam ethanol CVD dapat melindungi aktivitas katalis selain itu
tambahan air membantu mencapai penumbuhan CNTs yang super panjang. Namun,
senyawa organik, senyawa logam organik dan pohon sukses menghasilkan
penumbuhan SWCNTs, MWCNTs dan CNTs secara umum. Sebagai kesimpulan, secara
eksperimen hampir semua material yang mengandung unsur karbon dapat
dianggap sebagai prekursor CNT tertentu, identifikasi sumber karbon yang
murah dan tersedia dimana seharusnya menyebabkan seluruh chiralitas
mengontrol penumbuhan CNTs melalui CVD membutuhkan investigasi selanjutnya.
4.
Katalis CNT
Dalam mensintesis CNTs menggunakan metode CVD, katalis memainkan peran yang
sangat penting dan memperbaiki karakteristik yield yang
diinginkan melalui katalis sehingga memperbaiki kualitas CNTs. Nanopartikel
katalis bertindak sebagai nukleasi untuk penumbuhan CNT dan dengan demikian
dapat dianggap sebagai bapak hasil nanotube. Secara umum partikel katalis
yang berukuran nanometer dibutuhkan dalam sintesis SWCNT, sedangkan MWCNTs
dapat dihasilkan tanpa katalis. Fungsi katalis untuk menguraikan
hidrokarbon pada temperatur rendah dari temperatur dekomposisi spontan
melalui panas dan pembentukan CNTs melalui nukleasi baru.Nukleasi SWCNTs
membutuhkan partikel katalis, oleh karena itu perhatian besar yang
berhubungan dengan peran katalis dalam pembentukan embrio SWCNTs, tetapi
peran keseluruhan tidak pernah melaporkan konflik dan kontradiksi mekanisme
penumbuhan pada literatur tersebut. CNTs murni dapat tercapai melalui
dekomposisi/penguraian hidrokarbon hanya di permukaan katalis, dan mencegah
pirolisis udara.
Dalam sintesis CNTs menggunakan CVD yang menggunakan katalis nanopartikel
logam transisi. Ukuran partikel katalis akan mendikte ukuran diameter
tabung, secara umum ketika ukuran partikel katalis beberapa nm, akan
membentuk SWCNTs, sedangkan partikel dengan beberapa puluh nm biasanya akan
membentuk MWCNTs. Namun, kehadiran diameter, panjang dan chiralitas CNTs
dapat cukup hanya dikontrol melalui proses tunggal menyebabkan tidak
komplitnya peran katalis pada nukleasi dan penumbuhan nanotubes.
Ditemukan bahwa katalitik sintesis dengan CVD pada carbon nanotubes
menyangkut difusi karbon di permukaan dan atau bulk pada partikel katalis
logam. Interaksi secara kimia dan mekanik sangat kuat pada semua tahap
penumbuhan CNT dan oleh karena itu, interaksi seharusnya dipahami lebih
jauh untuk sintesis CNTs yang efisien. Interaksi CNT-CNT atau CNT-substrat
ditambah dengan penyusunan dan aktivitas katalis menentukan penumbuhan CNTs
pada konfigurasi yang terisolasi, kusut atau sejajar. Logam transisi
(biasanya Fe, Co, Ni) yang berbentuk nanopartikel ditemukan sebagai katalis
yang lebih efektif dengan alasa:
1. Pada temperatur tinggi, karbon memiliki kelarutan yang tinggi pada
logam.
2. Karbon memiliki laju difusi yang tinggi pada logam.
Selain hal tersebut, tekanan uap pada kesetimbangan rendah dan titik cair
yang tinggi memberikan rentang temperatur yang luas pada CVD dari sumber
karbon. Dan juga ditemukan bahwa Fe, CO, dan Ni memiliki pelekatan yang
kuat pada penumbuhan CNTs (lebih dari logam transisi yang lain), oleh
karena itu mereka lebih efisien pada pembentukan CNTs dengan cekungan
tinggi (diameter pendek) seperti SWCNTs. Penambahan logam transisi yang
dimaksud diatas seperti In, Cu, Ag, Pd, Mn, Mo, Cr, Al dan Au juga
digunakan sebagai katalis pembentuk SWCNT. Selain katalis logam, CNTs juga
dihasilkan menggunakan nanopartikel berlian dan semikonduktor (Si dan Ge)
sebagai katalis dan sapphire dan goresan lapisan tipis SiO 2. Selanjutnya, akhir tahun 2015, Hu dkk mensintesis SWCNTs yang
memiliki densitas tinggi sekitar 130 SWCNTs mikrometer-1 melalui
metode CVD menggunakan ethanol katalis Trojan yang dianalogikan dengan
tentara yang muncul dari rumah Trojan di kisah Greek Story.
Penumbuhan jejeran SWCNT direalisasikan sebagai kandidat yang kuat untuk
FETs dan transistor frekuensi radio.
5.
Substrat CNT
Pada penumbuhan CNT, katalis digunakan sesuai dengan substrat material
untuk kualitas dan yield CNTs. Material substrat, morfologi
permukaan dan sifat tekstur berpengaruh pada yield dan kualitas
penumbuhan CNTs. Tidak hanya aktivitas pada penyangga tapi juga interaksi
dengan katalis dan lingkungan penumbuhan, sehingga interkasi katalis dan
substrat seharusnya dipelajari dengan penuh perhatian. Interaksi baik
secara fisik maupun secara kimia mungkin terjadi antara substrat dan
material katalis. Interaksi secara fisika seperti gaya van-der-Walls dan
gaya elektrostatik, mencegah bergeraknya partikel katalis pada material
penyangga, mengurangi difusi termal dan sintering partikel logam pada
material substrat. Hasilnya stabil pada distribusi ukuran partikel katalis
selama sintesis CNTs. Interaksi secara kimia antara partikel katalis dan
permukaan substrat juga membantu menjaga distribusi ukuran partikel katalis
selama penumbuhan CNTs. Selanjutnya, pada tahun 2007 oleh Noda dkk,
melaporkan bahwa substrat oxide pada dasarnya digunakan sebagai penyangga
secara fisika untuk katalis logam yang memiliki peran terhadap penumbuhan
CNT. Perkembangan secara signifikan terjadi pada tahun 2015 oleh Ghosh dkk,
substrat graphite yang dilakukan secara kimia menentukan lapisan graphene
dan kemudian menyimpan lapisan Pt dengan ketebalan 0,2 nm. Mereka menemukan
bahwa penumbuhan SWCNTs melalui CVD dengan ethanol pada substrat adalah
semikonduktor dengan distribusi diameter yang sempit.
Berbagai substrat yang digunakan pada CVD untuk penumbuhan CNT adalah silicon,
silicon carbide, graphite, quartz, silica, alumina, magnesium oxide,
calcium carbonate
(CaCO3), zeolite, dan NaCl dll. Hai dkk,
menginvestigasi pengaruh perbedaan material penyangga pada katalis CoO.
Mereka memeriksa silica, titania, ceria, magnesia, alumina, zeolite dan
penyangga calcium oxide menggunakan methane sebagai
prekursor karbon. Mereka menemukan bahwa penumbuhan pada temperatur 700 oC, kapasitas karbon menurun dari alumina > ceria >
zeolite > silica > titania > calcium oxide > magnesia. Sebagai
tambahan, penemuan oleh Qingwen dkk, menunjukkan bahwa tidak ada
pembentukan SWCNT pada substrat silica, zirconium oxide
dan calcium oxide dibawah kondisi eksperimen yang sama dan
menggunakan katalis Fe dan Mo, sedangkan substrat alumina dan magnesium oxide menghasilkan SWCNTs tetapi beberapa material
penyangga magnesium oxide adalah substrat yang lebih efisien dalam
menghasilkan SWCNTs. Pada tahun 2007 Noda dkk melaporkan bahwa katalis
Fe/Al2Ox dan Fe/Al2O3
menghasilkan nanotube dalam jumlah besar bahkan lebih tebal dari
substrat. Mereka menemukan bahwa limpahan nanotubes tumbuh tebal
hanya jika menggunakan katalis Fe/Al2Ox dengan
ketebalan Fe < 0,6 nm dan tidak untuk katalis Fe/Al2O 3. Mereka selanjutnya menginvestigasi pengaruh penambahan air
sampai level tertentu dapat menambah laju penumbuhan nanotube,
tapi penambahan terlalu banyak akan menurunkan kualitas.
Tahap batas butir atau kristalin pada material penyangga memiliki peran
yang sangat penting pada penumbuhan dan orientasi CNT. Arah penumbuhan CNT
diatur melalui orientasi kristalografi pada permukaan substrat yang
terekspos. Dengan memaparkan beberapa laporan, penumbuhan CNT yang istimewa
pada 90o di permukaan Si (100), 60o di permukaan Si
(111). Namun, pada substrat kristal tunggal MgO (001) menghasilkan
penumbuhan CNT yang istimewa sepanjang arah (110), sedangkan pada tahun
2011 He dkk menumbuhkan CNTs secara orthogonal pada partikel alumina
berskala mikro melalui CVD campuran ferrocene-xylene pada
temperatur 400oC.
Secara umum prakondisi untuk material penyangga pada stabilitas termal dan
kimia dibawah proses penumbuhan. Karena itu penumbuhan secara langsung pada
substrat silikon atau pada logam sulit ditemukan disebabkan difusi material
katalis pada substrat dan pembentukan silika atau alloys diatas pemanasan
temperatur CNT. Sebagai contoh, beberapa perhatian mengenai penempatan
katalis Ni secara langsung ke dalam substrat silikom, beberapa penelitian
menyatakan bahwa pembentukan nickel silicide menghentikan nukleasi
partikel katalis dari lapisan tipis sehingga menghambat penumbuhan. Namun,
Nihei dkk, menegaskan hal yang berlawanan yang menunjukkan penumbuhan
langsung nanotube dari nickel silicide. Telah terdapat
banyak pembahasan, mengenai apakah CNTs dengan substrat silicon
lebih baik dari yang terbuat dari substrat silicon dioxide.
Beberapa penelitian yang mengatakan bahwa penumbuhan CNTs akan lebih
selektif pada Si daripada SiO2, sementara yang lain menegaskan
hal yang berlawanan. Kontradiksi ini menyebabkan substrat dengan material
katalis dan lingkungan penumbuhan, meluasnya kegunaan under-layers
yang datang karena keberadaannya.
Interaksi antara katalis dan material underlayer banyak sekali dan
kompleks. Pemilihan underlayer sangat kritis untuk sintesis CNT. Silicon oxide, magnesium oxide dan aluminium oxide
termasuk dari beberapa material underlayer terpopuler untuk
penumbuhan CNT. Hata dkk, sukses mensintesis tinggi beberapa millimeter,
hamparan kristalin SWCNTs yang sejajar secara vertikal dengan katalis iron pada alumina underlayer. Sebagai tambahan pada sifat
material, juga ketebalan underlayer ditemukan berpengaruh pada
penumbuhan CNT. Delzeit dkk, sintesis CNTs pada ketebalan lapisan Ir dengan
20 nm tetapi penumbuhan tidak muncul ketika ketebalan lapisan Ir berkurang
sampai pada 5 nm atau meningkat sampai pada 40 nm. Burt dkk, melaporkan
rentang temperatur optimum penting terhadap penumbuhan CNT menganalisis
perkembangan mikrostruktur pada underlayer Al. Pada tahun 2010
Nessim dkk, mengobservasi bahwa temperatur melting dan ketebalan underlayer berpengaruh terhadap penumbuhan CNT dengan
membandingkan penumbuhan pada lapisan Ta dan Pd dengan berbagai ketebalan.
Namun, penumbuhan pada underlayer konduktif sangat kritis untuk
aplikasi elektronik karena dibutuhkan kontak elektrik antara CNT dan
substrat dimana CNT ditumbuhkan. Penumbuhan CNT pada lapisan konduktif
interaksi kinetik meningkat antara katalis dan underlayer
disebabkan oleh pencampuran dan pembentukan senyawa intermetallic
pada temperatur penumbuhan, sehingga secara kritis mengurangi dosis termal.
6.
Perspektif kedepan
Perspektif kedepan yang berkenaan dengan sintesis CNT melalui CCVD sebagai
berikut:
1. Diameter penumbuhan CNT melalui metode CCVD berkenaan dengan ukuran
katalis yang digunakan, oleh karena itu banyak hal yang dapat dilakukan
yang memungkinkan cara menyediakan partikel katalis untuk ukuran yang
persis sama, sehingga sintesis SWCNTs dengan diameter tertentu dapat
dicapai.
2. Banyaknya aplikasi yang memerlukan diketahuinya hubungan antara logam
katalis yang digunakan dengan sifat penumbuhan CNTs. Oleh karena itu masih
banyak yang perlu terus dipelajari dan terus dieksploitasi dalam aplikasi
berbagai industri termasuk aplikasi divais.
3. Karena berbagai impuritas seperti NO2, SO2, NO 3 dan uap dll, yang ditambah selama proses penumbuhan CNTs
dengan metode CCVD, oleh karena itu dibutuhkan studi lebih lanjut mengenai
hal tersebut.
4. Pengontral chiralitas pada penumbuhan CNTs melalui metode CCVD
belum dicapai, namun telah ditemukan penyangga yang digunakan dengan
katalis titik lebur yang tinggi untuk chiralitas tertentu pada penumbuhan
CNTs.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar