Sabtu, 07 April 2018

Tugas 8 Review Jurnal

Fluidized bed catalytic chemical vapor deposition of carbon nanotubes-a revies
Firoozeh Danafar, A. Fakhru’l-Razi, Mohd Amran Mohd Salleh, Dayang Radiah Awang Biak
Chemical Engineering Journal 155 (2009) 37 – 48 

1. Pendahuluan
Carbon Nanotubes merupakan Graphene yang tergulung, dimana graphene merupakan material yang berasal dari susunan carbon yang berhibridisasi sp 3 berikatan secara hexagonal, membentuk silinder dengan diameter berukuran nanometer dan panjang berukuran millimeter. Bentuk CNT terbagi menjadi 3 kategori utama, single walls, double walls dan multiwalls. Struktur Single wall CNTs (SWCNTs) dapat digambarkan sebagai lapisan tipis satu atom dari grafit berbentuk silinder, sedangkan Multi Walls CNTs (MWCNT) merupakan kumpulan SWCNT yang terkonsentris. Sifat SWCNTs dipegaruhi oleh cara tergulungnya lembarangraphene tersebut yang dikenal dengan vektor chiral, yang selanjutnya menentukan apakah SWCNTs tersebut bersifat logam atau semikonduktor. SWCNTs memiliki sifat optik dan listrik yang lebih baik dari MWCNTs, akan tetapi MWCNTs memiliki sifat resistansi kimia yang lebih baik dari SWCNTs. 

Penumbuhan CNT dapat dilakukan dengan beberapa metode, antara lain: arc discharge, laser ablation dan CCVD. Metode CCVD merupakan metode yang penggunaannya telah meluas dan dapat menghasilkan CNTs dalam jumlah yang besar, sehingga dapat dikomersialisasikan. Hal yang menarik pada penumbuhan CNTs dengan metode CCVD ini adalah penggunaannya hanya memerlukan temperatur rendah sehingga biaya dapat diminimalisasi, tingkat kemurnian yang tinggi, kemungkinan menghasilkan CNTs yang sejajar dan berpotensi untuk menghasilkan CNTs dalam jumlah yang besar. 

2. Sintesis CNTs menggunakan metode catalytic chemical vapor deposition (CCVD)
Penumbuhan CNT dengan metode CCVD dilakukan dengan mengalirkan sumber gas pada katalis ke dalam tunggu pemanas. Terdapat 2 proses sistem kongfigurasi dari CCVD, yaitu horizontal dan vertikal. Tehnik floating dan fixed-bed catalyst termasuk ke dalam sistem kongfigurasi horizontal, dimana floating catalist menggunakan katalis campuran dan reaktan yang diberikan pada fase gas di dalam reaktor yang dijaga pada temperatur tinggi dimana reaksi CCVD berlangsung. Katalis fase gas mengalami transformasi di dalam reaktor dan membentuk partikel katalis aktif in-situ berfase padat berukuran nano. Kekurangan metode ini adalah sulitnya mencegah penggabungan/peleburan partikel. Hanya ketika nano-katalis padat menempel dipermukaan reaktor, sehingga memiliki waktu yang cukup untuk membentuk CNTs. Beberapa katalis berfase gas dan berfase padat yang tidak menempel di dinding reaktor tidak dapat bereaksi pada temperatur yang tinggi akan menjalar ke reaktan yang tidak terpakai dan gas pembawa atau gas hasil reaksi (hidrogen) sehingga secara dramatis menurunkan efisiensi proses. 

Pada proses fixed-bed, katalis fase padat ditempatkan pada wadah didalam reaktor dan reaktan yang berfase gas dimasukkan ketika temperatur operasional tercapai. Efisiensi penumbuhan CNT dalam proses ini sangat dibatasi oleh ketidakhomogenan antara kontak antara gas-padat dan perbedaan/gradien temperatur. Pada reaktor fixed bed horizontal, sumber gas carbon berdifusi ke partikel katalis menjadi terbatas disebabkan karena semakin banyaknya CNT yang tumbuh yang akan menutupi permukaan sehingga mengurangi efektivitas katalis di permukaan. 

Sistem fluidized bed CVD (FBCVD) terdiri dari furnace dan reaktor dalam posisi vertikal dimana partikel katalis bergantung pada aliran gas di atasnya. Keuntungan proses FBCVD dibanding kedua sistem sebelumnya yaitu floating dan fixed-bed catalyst, yaitu seperti pada metode floating catalyst sangat baik dalam transfer panas dan massa serta nanopartikel katalis menempati permukaan yang cukup luas dan kuat untuk tidak ikut bergerak bersama aliran gas reaktan/pembawa/produk. Besarnya daerah kontak antara reaktan dengan serbuk katalis menyebabkan reaksi kimia dan transfer panas menjadi lebih efektif. Banyaknya katalis yang tersedia sebanding dengan penumbuhan CNT, sehingga FBCNT lebih efektif dibanding dengan tipe lain dalam metode CVD untuk mensintesis CNT dalam jumlah yang besar. 

Dalam skala mikroskopik, mekanisme model pertumbuhan CNT dengan metode CCVD terdiri dari 3 tahap yang menyebabkan karbon padat dengan struktur sp 2 berbentuk tabung. Tahapan tersebut berturut turut antara lain dissosiasi (pemisahan) molekul hidrokarbon oleh katalis, saturation (penyerapan) atom karbon ke dalam nanopartikel katalis dan presipitasion (pengendapan) atom karbon dari katalis dalam bentuk CNT. Sifat CNT yang terbentuk, termasuk dimensi, jumlah dinding, chiralitas dan grapitization (perubahan struktur mikro) ditentukan oleh proses dan mekanisme pertumbuhan. Oleh karena itu, parameter yang mempengaruhi CCVD seharusnya dipertimbangkan dengan baik untuk mensintesis CNT. Berdasarkan beberapa literatur, parameter yang mempengaruhi adalah katalis, temperatur, sumber karbon dan waktu. 

2.1. Katalis
Peran katalis sangat penting dalam mensintesis CNT dengan metode CCVD dan oleh karena itu untuk memperbaiki karakteristik katalis yang diinginkan dilakukan dengan memperbaiki proses penumbuhan sebaik mungkin. Dalam proses CCVD, katalis merupakan material yang bekerja sebagai dekomposisi (pengurai) hidrokarbon dan pembentukan CNT, akan tetapi telah ditemukan bahwa katalis hanya memiliki kemampuan untuk dekomposisi (penguraian) molekul hidrokarbon, bukan penyebab terbentuknya CNT. Hasil ini menegaskan bahwa pemilihan katalis harus lebih hati hati karena merupakan faktor yang mendominasi sintesis CNT dalam metode CCVD. Logam transisi dalam bentuk nanopartikel dianggap sebagai katalis yang paling efektif. Faktor yang mempengaruhi kekuatan CNT berdasarkan sifat khas dari katalis antara lain: (a) aktifitas katalis dalam dekomposisi (menguraikan) senyawa karbon yang tidak stabil, (b) kemampuan pembentukan karbida metastabil, dan (c) difusi karbon melalui dan diatas partikel logam. 

Terdapat dua tahap penting dalam sintesis CNT dengan metode CCVD yaitu diawali dengan tahap preparasi katalis dilanjutkan dengan tahap kehadiran katalis. Pemilihan katalis dan penyangga dengan mengulangi proses dengan katalis dan penyangga yang berbeda untuk memperbaiki hasil secara signifikan. Interaksi antara penyangga dan nanopartikel logam baik sifat kimia maupun sifat fisika sangat dipengaruhi oleh nanopartikel katalis. Batas ukuran dan penentuan partikel logam oleh porositas penyangga merupakan interaksi fisika, sedangkan interaksi kimia mempengaruhi stuktur listrik dari sifat katalis nanopartikel. Kedua interaksi secara kimia dan secara fisika tidak hanya pada penyangga dan material katalis tapi juga orientasi kristalografik, tingkat kekasaran permukaan dan sifat porositas penyangga. Kaidah umum yang dihasilkan yaitu interaksi lemah dihasilkan pada ujung penumbuhan, sedangkan interaksi kuat pada dasar penumbuhan. Kekuatan interaksi antara logam dan penyangga akan memperbaiki dispersi (penyebaran), distribusi ukuran yang sempit, serta mengurangi sintering dan aglomerasi (penumpukan) dari logam aktof tertentu. Disisi lain kekuatan interaksi antara logam dan penyangga akan menghalangi pengurangan prekursor oxida dari logam aktof tertentu. 

Hasil penumbuhan CNT dengan katalis yang sama tetapi penyangga yang berbeda disarankan yang memiliki substrat dengan daerah permukaan yang luas, seperti alumina dan silika. Tingginya permukaan memungkinkan sumber karbon segera berdifusi pada partikel katalis logam. Sehingga, untuk memaksimalkan permukaan tidak hanya dengan menggunakan katalis nanopartikel heterogen. Pada dasarnya, peran katalis antara lain: (a) menyebarkan phase aktif, (b) mencegah sintering katalis dan (c) memperbaiki kekuatan mekanik. 
 
Secara umum katalis heterogen menentukan struktur pori penyangga, akan tetapi tidak berperan penting pada penumbuhan CNT dengan metode CCVD. Pori-pori tersebut tidak aktif jika tidak mengandung katalis logam aktof tertentu. Jika logam katalis aktif tertentu tersedia di dalam pori, maka akan mempercepat karbon memenuhi pori dan menghalangi penambahan reaktan hidokarbon. 

Kesepakatan dalam literatur ilmiah bahwa logam transisi dalam bentuk nanopartikel dapat menghasilkan CNT dan diameter luar nanotube yang terbentuk berhubungan langsung dengan ukuran partikel katalis. Faktor lain yang mempengaruhi aktivitas penyangga katalis adalah tingkat menyebarnya nanologam tersebut diatas penyangga. Optimasi partikel nanopartikel logam dan penyebarannya pada penyangga menyebabkan meningkatnya jumlah tempat yang aktif untuk dekomposisi hidrokarbon. Berdasarkan pengalaman secara sains dan tehnologi bahwa dengan metode sintesis menggunakan katalis heterogen dapat memenuhi persyaratan untuk memhasilkan CNT dengan struktur dan komposisi yang kuat. 
 
Beberapa strategi untuk sintesis penyangga katalis logam, dan yang umum dilakukan adalah metode sol-gel, impregnation (peresapan), co-precipitation (pengendapan), dan CVD. Efektifitas dari metode tersebut sangat bergantung pada sifat permukaan penyangga melalui interaksi dengan logam aktif. Metode sintesis sol-gel telah dilaporkan memiliki sifat distribusi homogen yang tinggi terhadap logam transisi pada penumbuhan nanotube yang lurus, akan tetapi aktivitas penyangga katalis mempengaruhi kondisi setiap single CNT dan seharusnya dapat dikonrol dengan teliti untuk membuat metode tersebut reproduksibel. Penyebaran partikel logam pada penyangga juga bergantung pada rasio kandungan logam – penyangga dalam proses preparasi. Rasio kandungan antara logam dan penyangga menyebabkan sintesis ini memperoleh hasil yang maksimum. Dengan meningkatkan persentase logam bukan hanya berguna untuk menambah tersedianya zat aktif pada penumbuhan CNT, akan tetapi juga meningkatkan rata rata ukuran partikel dalam logam . Dengan meningkatkan logam katalis pada penyangga, dapat meningkatkan laju dan hasil serta lebih mengaktifkan katalis yang tersedia untuk pendeposisian karbon. Setelah optimal, maka dapat membuat partikel logam membesar di area sempit tertentu. 

Logam Fe, Co, dan Ni telah dianggap sebagai katalis terefektif untuk penumbuhan CNT. Akan tetapi, tantangannya adalah logam mana yang lebih aktif dan menghasilkan kualitas CNT yang terbaik. Secara umum, logam Fe menghasilkan kualitas CNT yang lebih rendah dibanding Co dan Ni. Gabungan dua transisi (logam alloy) antara logam transisi yang satu dengan logam transisi atau bukan logam transisi dapat memperbaiki kualitas CNT dan menurunkan temperatur reaksi . Walaupun pemilihan dan preparasi katalis merupakan faktor yang sangat menentukan dalam sintesis CNT, terdapat sejumlah mekanisme yang dapat menyebabkan tidak aktifnya katalis dan karenanya menurunkan kinerja reaktor. Peracunan, pengotordan sintering menyebabkan tingginya temperatur atau lamanya waktu reaksi dalam metode ini. Perubahan fase dalam penyangga katalis juga sering muncul yang selain menyebabkan tingginya temperatur yang dibutuhkan, juga menyebabkan berkurangnya area permukaan sehingga berdampak pada berkurangnya jumlah laju reaksi pada tempat yang aktif. Sebagai akibatnya, parameter yang mempengaruhi proses sintesis CNT yang lain harus diperhitungkan secara bersama. 

2.2. Temperatur
Setiap tahap dalam penumbuhan CNT yang dibahas pada subbab 2.1 diproses secara termal dan oleh karena itu perlu karakterisasi batas temperatur di setiap tahap. Temperatur awal untuk sintesis CNT pada metode CCVD yang sering dilaporkan lebih tinggi dari 500oC tapi hasil ini bukan temperatur maksimum. Pada awalnya, dipercaya bahwa temperatur yang sangat tinggi cocok untuk pembentukan SWCNT dibanding MWCNT, akan tetapi dengan adanya metode CVD ini, khususnya FBCVD, merubah pendapat yaitu penumbuhan SWCNT harus dijaga pada temperatur rendah. Beberapa laporan yang dihasilkan seperti pada tabel dibawah. 

Pengaruh temperatur terhadap morfologi CNT yang terbentuk merupakan salah satu topik terpopuler yang sering dibahas. Muataz dkk, membahas mengenai peran temperatur pada sintesis CNT menggunakan metode floating catalyst, dengan benzena dan ferrocene berturut-turut sebagai prekursor dan katalis. Mereka menekankan bahwa sintesis MWCNT terjadi diatas temperatur 500oC dan jumlah dinding maksimum serta impuritas yang rendah terjadi pada temperatur 850 oC. Pada temperatur yang lebih tinggi, CNT yang terbentuk seperti nanofiber. Mereka juga mengungkapkan kepastian hubungan antara diameter rata-rata, panjang CNT dan temperatur. Mereka mengemukakan bahwatemperatur merupakan faktor yang mendominasi diameter CNT. Hal yang sangat berpengaruh terhadap meningkatnya temperatur adalah meningkatnya ukuran partikel logam selama penumbuhan CNT, dan konsekuensinya berdampak pada diameter CNT. Akan tetapi, beberapa laporan juga terjadi ketidakkonsistenan tentang pengaruh temperatur pada mekanisme penumbuhan CNT. Kim, dkk gagal mengamati pengaruh temperatur pada diameter CNT, akan tetapi mampu mengamati bahwa temperatur yang tingi menyebabkan semakin panjangnya kristalin nanotube. Son dkk, menyimpulkan bahwa sintesis diameter CNT dari methane dengan metode fluidized bed menurun dengan meningkatnya temperatur. Namun, temperatur jelas mempengaruhi laju pertumbuhan, kemurnian (puritas) dan kristalin CNT pada CNT tersebut. 

Paradoks dari sintesis CNT tentang temperatur yang tinggi bahkan tanpa cacat, yaitu baik untuk kristal nanotube, termasuk parameter yang menarik seperti yield dan puritas, tetapi temperatur yang sangat tinggi juga memiliki beberapa kekurangan antara lain: deformasi katalis, sintering penyangga katalis, pembentukan alloy pada katalis bimetal dan pembentukan amorf karbon. meskipun pada kasus yang jarang terjadi, CNT yang dihasilkan pada temperatur lebih tinggi dari 1000oC, namun CNT berbentuk non-tubular dapat dihasilkan metode CVD. Hal ini mengungkapkan bahwa ketika temperatur sekitar 1000oC tidak hanya terjadi pirolisissumber karbon, tapi juga ketika akan dimulainya pirolisis CNT. Akibat lain dari perubahan temperatur terkhusus pada sintesis SWCNT adalah distribusi diameter dan chiralitas. Bahkan, ukuran dan bentuk nanopartikel katalis akan lebih stabil pada temperatur rendah, terutama dalam mengontrol ukuran dan chiral nanotubes menjadi lebih baik .
 
2.3. Sumber karbon
Selain temperatur dan katalis, sumber karbon juga mempunyai peranan penting dalam penumbuhan, karakteristik dan sifat CNT, karena mereka memiliki energi ikat, tipe dan reaktif dalam senyawa serta sifat termodinamika tersendiri. Perbandingan karakteristik CNT yang dihasilkan berhubungan dengan struktur kimia dari hidokarbon dan pembentukan CNT. Hernadi dkk, telah mendeklarasikan bahwa hidrokarbon tak jenuh memiliki yield dan laju/nilai deposisi yang lebih tinggi dari gas jenuh. Sebagai tambahan, karbon gas jenuh cenderung menghasilkan filamen grafitisasi (proses perubahan karbon yang strukturnya relatif tak teratur menjadi struktur yg teratur) yang tinggi dengan sedikit dinding dibanding dengan gas tak jenuh. Sehingga, disarankan menggunakan hidrokarbon jenuh untuk menghasilkan penumbuhan SWCNT dan menggunakan hidrokarbon tak jenuh untuk menghasilkan penumbuhan MWCNT. Akan tetapi, SWCNT diperoleh dari hidrokarbon tak jenuh dengan tingkat keenceran yang tinggi. Li dkk, menunjukkan bahwa struktur kimia hidrokarbon, seperti straigh-chained ring (rantai lurus berbentuk cincin) atau seperti struktur benzena, secara signifikan lebih berpengaruh pada sifat termodinamik (misal, entalpi) sumber karbon pada pembentukan CNT. Selain kongfigurasi, fungsional senyawa hidrokarbon juga turut menentukan kualitas material yang dihasilkan. Penumbuhan SWCNT murni dapat dilakukan pada temperatur rendah menggunakan alkohol dengan berbagai katalis. Penulis menyimpulkan bahwa alkohol lebih baik digunakan sebagai sumber karbon untuk penumbuhan SWCNT dari hidrokarbon dan hal ini wajar karena disebabkan adanya radikal OH- untuk mengetsa karbon amorf yang terendap. Namun, Herdani dkk dan Qian dkk menyarankan bahwa dengan menggunakan katalis tertentu maka tidak mempengaruhi morfologi CNT. 

Sintesis CNT menginginkan sumber karbon yang stabil secara kinetik, dimana sumber karbon mengalami dekomposisi pirolisis paling sedikit pada proses temperatur. Pada umumnya, sumber karbon yang digunakan adalah ethylene, acetylene, methane, ethanol dan CO. Akhir akhir ini, yen dkk, melaporkan bahwa CNT dapat disintesis dari padatan polimer polucarbosilane dan polyethylene menggunakan metode FBCVD. Hasil eksperimen mengindikasikan bahwa sintesis CNT dari PE memiliki kualitas yang lebih baik dan derajat grafitisasi yang lebih tinggi. Menyebabkan rendahnya biaya dan tersedianya sumber alami, mereka menggunakan sumber karbon tersebut dengan tujuan untuk memperoleh hasil CNT pada skala luas dengan biaya yang murah. Hal ini membutuhkan sumber karbon alami yang mahal dan terbatas. Bahkan, gas organik sangat bersifat racun, berbahaya dan sulit untuk disimpan dan diangkut. Karena itu, batu bara, LPG dan gas alami sangat baik digunakan untuk mensintesis CNT. Akan tetapi, terdapat kekurangan dalam menggunakan sumber karbon alami yaitu adanya impuritas (pengotor) yang akan mempengaruhi proses dan reaksi, dan juga dapat menimbulkan kerusakan terhadap peralatan. Hal ini menjadi penting untuk diperhatikan dalam meningkatkan yield dan kualitas CNT yang dihasilkan dari sumber karbon alami. Penjelasan yang layak diperhatikan adalah pengaruh gas tertentu dalam gas batubara dan gas alami. Untuk dapat menghasilkan CNT yang komersial, harus disuplay oleh sumber karbon dengan konversi (perubahan) yang tinggi, murah, tersedia, dan menghasilkan CNT dengan cacat yang rendah. 

Kualitas sumber karbon jelas mempengaruhi reaksi dan karenanya dalam proses terdapat nilai arus kritis. Jelas bahwa pada laju alir yang rendah, reaktan tidak cukup untuk bereaksi dengan katalis dan konsentrasi sumber karbon dikontrol dari dekomposisi. Semakin tinggi laju alir, maka semakin meningkatkan laju dekomposisi, tetapi setelah titik kritis, meningkatnya laju alir tidak signifikan terhadap peningkatan laju dekomposisi atau penumbuhan CNT, yang dapat dikontrol oleh partikel katalis tertentu . Penumbuhan SWCNT atau MWCNT, faktanya dapat dihasilkan dengan mengontrol laju sumber karbon dan beberapa sumber karbon yang berlebih akan menghasilkan struktur yang acak. 

2.4. Gas pembawa
Dalam proses sintesis CNT, beberapa prekursor karbon tertentu diberikan kedalam reaktor dalam bentuk gas. Untuk mengurangi pembentukan amorf karbon dan menurunkan waktu kontak antara sumber karbon dan katalis, sumber karbon diencerkan oleh gas pembawa. Chamber juga harus dijaga agar bebas oksigen dengan menggunakan gas pembawa (carrier gas) selama proses untuk mencegak terjadinya oksidasi karbon. Hal penting yang perlu ditekankan bahwa gas pembawa seharusnya merupakan gas non-reaktif. Argon, hidrogen dan nitrogen merupakan gas pembawa yang terpopuler karena mereka mudah membentuk atmosfer inert, gas lain yang biasa digunakan adalah helium atau NH3. Secara umum, gas pembawa dapat mempengaruhi penumbuhan dan karenanya mempengaruhi struktur dan sifat CNT. 

Qingwen dkk, melaporkan pengaruh gas pembawa cyclohence dengan metode CVD. Ketika menggunakan Argon sebagai gas pembawa akan menghasilkan MWCNT, sedangkan ketika menggunakan hydrogen sebagai gas pembawa akan menghasilkan SWCNT . Studi yang relevan dikaji oleh Mi dkk, membandingkan pengaruh NH 3 dan nitrogen sebagai gas pembawa terhadap struktur dan morfologi CNT. Dalam kasus, yang menggunakan ferrocene sebagai katalis dan acetylene sebagai sumber karbon, dan NH3 sebagai gas pembawa menghasilkan CNT dengan struktur seperti bambu dengan diameter dibandingkan dengan yang menggunakan nitrogen. Pernyataan diatas, cukup sesuai dengan hasil yang diperoleh oleh Kukovitsky dkk. Penulis menyimpulkan bahwa kondisi gas alami memiliki pengaruh penting terhadap gerakan dan proses sintesis dari partikel katalis, dan oleh karena itu kekuatan pada interaksi logam-penyangga berubah. 

Urutan peristiwa yang terjadi dalam proses sintesis CNT dengan metode CVD antara lain: gas reaktan masuk ke dalam reaktor melalui aliran yang dibuat, difusi gas melalui batas lapisan (boundary layer), gas yang datang ke permukaan substrat, gas hasil reaksi difusi dari permukaan melalui boundary layer. Berbagai fenomena transfor, baik secara difusi maupun konveksi dan proses reaksi yang mendasari metode CVD yang melibatkan beberapa tumbukan antar molekul. Tumbukan tersebut mentransfer energi dan momentum ke pasangan tumbukannya, atau menyebabkan transfer massa antara satu bagian ke bagian yang lain. Sifat transfer gas yang meliputi beberapa komponen, termasuk viskositas dan konduktivitas termal, koefisien difusi panas dan massa mempengaruhi temperatur, tekanan dan komposisi campuran. Jelasnya, cara berdifusi dalam proses penumbuhan CNT yaitu dimana gas panas memaksa katalis untuk menempel pada media dan memperlambat penumbuhan CNT. Sehingga dapat disimpulkan bahwa lingkungan/kondisi gas alami secara intensif mempengaruhi semua tahap sintesis CNT menggunakan CVD.

Perlu diperhatikan bahwa, H2 umumnya dianggap sebagai gas reaktif dibanding sebagi gas pembawa. Hal ini dipercaya bahwa hidrogen yang tersedia di logam katalis berkurang/menyebar di lingkungan sekitarnya dan karenanya deposisi karbon dipermukaan katalis mencegah peracunan yang menyebabkan berkurangnya pembentukan karbon deposisi yang tidak diinginkan. Namun, Qian dkk, mengungkapkan bahwa tidak ada perbedaan yang nyata pada morfologi CNT baik yang menggunakan katalis unreduced, maupun yang menggunakan katalis reduced. Mereka juga melaporkan bahwa ketika menggunakan katalis unreduced konversi/perubahan methane sebagai sumber karbon meningkat secara signifikan. Kelompok berbeda juga mengungkapkan hasil yang sesuai, yaitu dengan menggunakan gas pembawa Argon atau Nitrogen menghasilkan CNT dengan kualitas yang baik. 

Meskipun keberadaan H2 sangat penting dalam menghasilkan SWCNT, hasil terbaik yang diungkapkan oleh Son dkk adalah, tanpa menggunakan H 2 diameter yang dihasilkan menurun dan kristalisasinya meningkat. Selanjutnya, Liu dkk, menguji pengaruh konsentrasi H2 terhadap morfologi CNT, menekankan bahwa dengan meningkatkan konsentrasi H 2 membawa perubahan besar pada CNT yang terbentuk dalam hal jumlah dinding dan diameter. Hidrogen dengan konsentrasi tinggi mempercepat sintering partikel logam dan konsekuensinya memperbesar diameter CNT. Bukti yang menyakinkan telah dilaporkan sebelumnya mengenai kebergantungan ukuran katalis terhadap pembentukan CNT. Pengamatan mengenai pengaruh konsentrasi hidrogen pada struktur lapisan karbon telah sesuai terhadap apa yang telah dilaporkan oleh Xiong dkk. Oleh karenanya, sintesis SWCNT atau MWCNT dapat dilakukan dengan memperhatikan konsentrasi H­2 . Disamping semua itu, perlu diketahui dengan baik bahwa penumbuhan nanofiber dapat ditingkatkan dengan atmosfer hidrogen. 

Hasil ini mengaindikasikan bahwa senyawa gas yang mengalir memiliki pengaruh yang kuat terhadap sintesis CNT dengan metode CVD . Yang berperan pada tahap reaksi CVD, stabilitas katalis dan aktivitasnya. Oleh karena itu, gas pembawa memiliki dampak terhadap karakteristik morfologi dan struktur pada penumbuhan CNT dan keseragamannya . Lebih mendalam lagi, tak bisa dipungkiri bahwa suasana gas mempengaruhi sintesis CNT metode CCVD. Oleh karena itu dibutuhkan ketelitian dan pembahasan yang mendalam mengenai hal tersebut. 

2.5. Kecepatan dan waktu proses
Lamanya pengoperasian yang baik ditentukan oleh hasil dan proses yang berkualitas, dan yang terpenting adalah faktor ekonomi dalam pemprosesannya. Dalam proses CCVD, terdapat waktu optimum yaitu ketika melebihi waktu tersebut maka nukleasi menjadi lebih sulit dan menonaktifkan nanopartikel katalis yang mulai muncul. Namun, terdapat perbedaan waktu optimum yang besar sehubungan dengan parameter dan katalis alami, sebagaimana halnya dengan sumber karbon. Nukleasi CNT, mengakumulasi atom karbon di dalam partikel katalis ketika mencapai konsentrasi kritis, yang berhubungan dengan laju deposisi. Kouravelou dan Sotirchos dalam studinya membuktikan bahwa laju deposisi bergantung pada prekursor alami karbon dan komposisi katalis sebagaimana halnya dengan temperatur. 
 
Sementara itu, telah dilaporkan bahwa CNT memiliki perbedaan morfologi apabila dilakukan dengan waktu reaksi yang berbeda. Lamouroux, percaya bahwa waktu reaksi yang singkat akan menyesuaikan penumbuhan SWCNT. Kim dkk, melaporkan bahwa diameter CNT ditentukan oleh lamanya waktu pemanasan dalam tabung reaktor. Sesuai dengan penyataan mereka, Roman dan somenath menunjukkan bahwa rata rata diameter MWCNT meningkat seiring dengan lamanya proses CVD, kemungkinan disebabkan oleh sintering dan tumpukan partikel. Selanjutnya, panjang CNT dikontrol oleh lamanya waktu deposisi. Qian dkk, menyimpulkan bahwa sampel CNT pada periode yang berbeda mempunyai stabilitas termal yang berbeda, yaitu dimulai dari penumbuhan CNT pada kestabilan termal yang rendah dan cacat yang berat jika dibandingan dengan penumbuhan tabung sepenuhnya. Hal ini menyatakan bahwa reaksi kinetik sangat dibutuhkan selama sintesis CNT dikendalikan

Penelitian Roman dan Somenath, telah menunjukkan bahwa lamanya waktu alir, waktu yang dibutuhkan fluida di dalam reaktor, juga berperan penting dalam penumbuhan CNT melalui proses CCVD. Berdasarkan dari hasil yang mereka dapatkan dengan metode fixed-bed-reaktor, pada waktu tinggal yang sangat rendah hanya CNT dengan bentuk bukan non-tubular. Ketika waktu tinggal ditingkatkan, maka konsentrasi radikal aktif dan zat perantara gas meningkat, oleh karena itu mereka bergabung kembali ( recombine) dan membentuk molekul yang lebih besar. Pada kondisi ini, radikal aktif menangkap atom C yang tersedia, jika tdk membentuk CNT maka akan membentuk atom karbon yang lain. 

Tersedianya area permukaan yang khusus untuk reaksi CCVD dan karena kuatnya pengaruh lama sintesis danspace velocity. Space velocity adalah volume laju alir relatif terhadap massa katalis. Beberapa parameter penting telah dibahas yang dapat menjadi pertimbangan selama pengukuran dalam proses katalis seperti penyaringan katalis ( catalyst screening), penentuan proses parameter, kondisi optimasi proses katalis, dan penonaktifan. Pada dasarnya,space velocity akhirnya dapat ditentukan padaa pilot plant. Hal ini bermanfaat, dengan catatan bahwa space velocity pada fluidized bed reactors relatif lebih tinggi dibandingkan dengan fized bed, karenanya baik untuk mensintesis CNT berdinding satu atau rangkap . Space velocity yang tinggi mencegah pengaruh difusi luar dalam partikel katalis dan dapat diperoleh dengan menggunakan laju alir gas yang tinggi atau bukan berbagai dasar katalis yang padat/rapat. Kendala yang sering muncul pada laju alir yang tinggi bahwa terus berkurang sampai pada lingkungan dasar katalis dan akhirnya mempengaruhi kualitas deposisi. Bahkan, terdapat beberapa kesulitan pada kecepatan gas yang tinggi untuk meningkatkan pengaruh kestabilan fluidisasi katalis dan ukuran density yang rendah dalam reaktor. Liu dkk, mendemostrasikan metode singkat meningkatkan space velocity untuk mensintesis DWCNT. Space velocity ynag tinggi dicapai oleh katalis yang tersedia dalam jumlah sedikit di dalam fluidized bed reactor. Namun, parameter yang menonjol secara sistematis masih menjadi rahasia di sebagian besar penelitian mengenai sintesis CNT metode CVD baik fixed atau fluidized bed.
 

3. Sintesis CNT menggunakan tehnik fluidization
Fluidized bed reactor memiliki aplikasi yang meluas di bidang industri, seperti reaktor kimia dengan tipe yang berbeda, memecahkan katalis cair, pembakaranfluidized bed, fluidized bed bio-filter atau aplikasi coating pada padatan. Fluidized bed reactor mampu menghasilkan kontak antara gas dan padatan serta pencampuran partikel dengan baik, mempermudah mengontrol dengan ketat reaksi eksotermal, menyediakan gas untuk partikel dan bed untuk dinding CNT dengan baik. Akhir akhir ini, fluidized bed reactor dengan penyangga katalis nano logam mampu telah ditemukan memiliki efektivitas yang sama dalam memproduksi CNT. FBCVD secara khusus menggunakan reaktor vertikal yang tertutup dengan pemanas listrik. Sumber karbon dan gas pembawa bercampur mengalir ke atas penyangga partikel katalis dengan kontak yang baik dengan reaktan. Produksi massal dari CNT, jika ditinjau berdasarkan ketahanan, fleksibilitas dan produktivitas yang tinggi, maka tehnik FBCVD memberikan kemampuan lebih di banding dengan tehnik fixed bed dan floating catalyst. Bahkan, FBCVD mudah ditingkatkan dan dapat dioperasikan secara terus menerus dengan biaya yang rendah dalam skala produksi CNT.

Pada dasarnya, fluidization menyediakan space velocity yang tinggi yang menyebabkan efisiensi kontak antara gas dan padatan dan karenanya meningkatkan transfer massa dan energi. Hal ini sesuai dengan tercapainya proses yield yang tinggi, hasil yang homogen, murni dan selektif. Bahkan proses yang fleksibel terhadap parameter pengoperasian seperti campuran gas, temperatur yang dapat diatur sesuai hasil yang diinginkan. Selanjutnya, tersedianya space untuk penumbuhan CNT dan waktu resistansi mereka dapat dikontrol dengan tepat serta aktivitas katalis yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan produksi massal yang baik dengan pertumbuhan yang seragam. Meskipun terdapat beberapa kelebihan, jika terdapat perencanaan dan pengoperasion fluidized bed reactor yang salah maka dapat menyebabkan perubahan secara teori jauh dari sempurna. 

Fasilitas lain yang disediakan oleh fluidized bed reactor didemonstrasikan oleh Xu dan Zhu yang menitikberatkan keunggulan lain dari reaktor dalam menghasilkan CNT secara massal. Mereka mengembangkan tehnik baru yaitu metal-organic chemical vapor deposition (MOCVD) yaitu menambahkan satu tahap preparasi dengan menyebarkan katalis pada logam-penyangga dilanjutkan oleh metode FBCVD. Beberapa kelebihan metode ini dibanding dengan metode konvensional (seperti: impregnation/ peresapan, pertukaran ion, presipitasi bersama, pengkristalan bersama) karena menghilangkan operasi pengeringan, dan karenanya meminimalkan aggregat/penggumpalan atau pertumbuhan ukuran kristal diatas partikel logam penyangga yang disebabkan oleh pengoperasian. Aktivitas penyangga partikel katalis yang disiapkan telah diuji selama sintesis CNT dengan metode FBCVD menggunakan achetylene. Hasil ini membuktikan bahwa untuk semua katalis logam penyangga yang tersimpan pada logam memiliki tingkat penyebaran yang tinggi pada permukaan partikel penyangga . Dengan mencoba mengembangkan FBCVD menuju produksi secara massal, See dkk, menyelidiki beberapa parameter dan mereka pengaruh FBCVD menggunakan fractional factorial design. Namun, dibutuhkan pemahaman yang mendalam dan lebih jauh mengenai parameter pengoperasion untuk menghasilkan CNT yang komersial dan memiliki kualitas dan kuantitas yang baik. Kajian umum mengenai prinsip fluidization memberi kontribusi yang baik pada FBCVD. 

Kualitas fluidization secara teliti berhubungan dengan sifat partikel, seperti kerapatan partikel, ukuran partikel dan distribusinya serta karakteristik permukaan. Geldart mengklasifikasikan powders ke dalam 4 kategori berdasarkan sifat fluidization-nya pada kondisi ambient. Type A merupakan partikel dengan ukuran 20-100 mm, memiliki struktur kohesi yang agak ramping. Tipe B adalah material padat seperti gelas dan pasir dengan diameter sekitar 150 mm. Tipe C adalah partikel yang lebih kecil dan lebih ringan dibanding tipe A, biasanya dengan diameter kurang dari 20 mm. Tipe D merupakan partikel yang besar, yang berode satu millimeter atau lebih. Partikel ukuran nano, seperti yang diklasifikasikan oleh Geldart, berada dalam kelompok C, tapi sifat fluidization nya berbeda dari partikel C secara konvensional karena dimensinya dan kerapatannya jauh lebih kecil. Partikel C Geldart sulit untuk dialirkan karena memiliki gaya kohesi yang besar yang menyebabkan bentuk dan saluran dalam wadahnya (bed) retak. Walaupun nanopartikel dengan muatan permukaan yang besar diharapkan dapat dengan mudah dialirkan yang disebabkan oleh pembentukan gumpalan.Fluidization tipe ini disebut agglomerate particulate fluidization.
 
Pada dasarnya kualitas fluidization dinyatakan oleh rasio kecepatan aliran gas yang digunakan terhadap kecepatanfluidization minimum (U/Umf). Kecepatan fluidization minimum adalah kecepatan aliran luar yang diberikan gaya dari atas yang sama dengan tinggi partikel sesungguhnya dalam bed. Penurunan tekanan gas yang melintasi bed menjadi konstan dengan meningkatnya kecepatan gas. Kecepatan fluidization minimum bergantung pada ukuran dan kerapatan partikel, kelompok Geldart dan sifat baik dari zat cair. Nilai Umf secara eksperimen biasanya ditentukan oleh pengukuran penurunan tekanan sebagai fungsi dari kecepatan gas. Dan juga hubungannya dapat diprediksi secara empirik atau semi-empirik. Namun, hasil dari berbagai persamaan tidak akurat yang secara praktis menyebabkan perbedaan sifat partikel. 

Masalah yang menonjol dalam sintesis CNT dengan metode FBCVD berhubungan dengan penentuan kualitas fluidization, karena berubahnya karakteristik bed pada sejumlah reaksi dan temperatur tinggi.Partikel katalis diawali dengan fluidization dan sifatfluidization dapat dengan mudah diprediksi pada kondisiambient berdasarkan klasifikasi Galdert. Namun, karakterisasi fluidization pada perlakuan perubahan temperatur, dimana di atas 500oC muncul perbedaan dari kondisi ambient yang ditempati. Hal ini disebabkan karena pengaruh sifat gas pada grup dan mungkin berdampak serius pada pengoperasian fluidized bed. Bahkan, Umf secara signifikan menghasilkan distribusi ukuran berbeda terhadap fresh bed yang disebabkan oleh elutriasi, attrition (pengurangan), gumpalan partikel, berubahnya karakteristik solid bed disebabkan oleh reaksi, densitas, dan viskositas fluida, perubahan ini disebabkan oleh raksi dan temperatur. 

Venegonia dkk, mengkaji penumbuhan CNT dengan metode FBCVD dengan mengukur Umf partikel SiO2, yang terdapat pada kelompok B di pengklasifikasian pada suhu 25 dan 550oC, dan ditemukan bahwa diperoleh Umf = 517 cm min-1 dan menurun menjadi 57 cm min-1.Dengan berdasar pada observasi ini, Morancais dkk, menunjukkan selama sintesis CNT, Umf kurang lebih dibagi 6 setelah berjalan sekitar 120 menit, karena menurunnya kerapatan butir dengan tajam; dan konsekuensinya meningkatkan rasio fluidization. Karena itu, terbukti bahwa U/Um = 0,87 dengan diameter reaktor 5,3 cm, menghasilkan kondisi optimum dalam membentuk kualitasfluidization dan MWCNT. Mereka juga mengungkapkan bahwa yield karbon cenderung meningkat ketika rasio U/Umf menurun, dengan pemberian jumlah karbon yang sama, karena meningkatnya waktu tinggal prekursor gas di dalam bed. Berbeda dengan hal tersebut, son dkk, melaporkan bahwa laju aliran gas 2Umf, transfer massa dan panas relatif lebih rendah, dan yang utama adalah berkurangnya yield karbon dan membesarnya diameter CNT dibanding dengan laju aliran gas 4Umf. Hasil ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh See dkk, Corrias dkk, dan Venegonia dkk, yang menggunakan rasio fluidization lebih besar dari satu. Belakangan ini, Philippe dkk, secara komprehensif (lengkap/meluas) mempelajari model kinetik dari CNT dengan metode FBCVD yang mengindikasikan bahwa Umf menurun dengan durasi sampai 30 menit dan selanjutnya meningkat secara teratur, dengan hubungan Ergun dimana Umf bergantung pada dp3 (rP - rg

Dalam mensintesisi CNT menggunakan metode FBCVD, pada mulanya beberapa katalis sesuai dengan static bed heingh H2, yang menyediakan karakteristik operabilitas dari fluidized bed. Oleh karena itu, tantangan yang terkait dengan tempat massa katalis dalam reaktor tidak hanya berpengaruh pada pembentukan CNT tapi juga pada kondisi fluidization . Pertama tama, harus teliti dalam mempersiapkan kegiatan pembentukan CNT. Selanjutnya, memilih katalis yang sesuai untuk menentukan sifatfluidizationnya. Namun, awalnya memanfatkan sejumlah katalis pada tabel 2 di bawah, untuk digunakan sebagai perbandingan.Son dkk, berkomentar bahwa jika static bed heigh Hs lebih kecil dari diameter luar reaktor (seperti: shallow bed) maka kualitas fluidization jelek. Penambahan bubuk alumina 114.3 mm sebagai partikel inert, dapat memperbaiki hasil CNT, diameter rata rata CNT dan ukuran gumpalan CNT sebagai akibat dari partikel inert. Berdasarkan komentar mereka, See dan Harris juga menggunakan 40 g CaCO3 murni sebagai tambahan 70 g katalis (Fe-CO supported). Namun, beberapa penelitian bersikeras menyatakan bahwa kecilnya intial bed height cukup efektif untuk mensintesis CNT menggunakan FBCVD karena secara signifikan menurunkan bed density dan memperluas laju bed. Bahkan, katalis dalam jumlah besar memerlukan laju gas yang sangat tinggi untuk kondisi homogen di dalam reaktor dan untuk transportasi di dalam reaktor. Pembatalan bahwa kecepatan gas yang sangat tinggi menyebabkan kompleksnya penskalaan. Berdasarkan kekhasan/keganjilan ini, maka diperlukan desain reaktor dan kondisi operasi yang sesuai. 

Mengingat struktur CNT, yang memiliki kedua dimensi nanomatrix (yang berhubungan dengan jari-jari) dan mikroskopik (berhubungan dengan panjang). Jelas bahwa sifat CNT pada hasil ahkhir dengan metode FBCVD merupakan bubuk hitam yang kenyal (black spongy powder) dengan densitas bulk yang rendah. Selanjutnya dengan pengamatan mikroskopik menunjukkan bahwa hasil partikel yang dihasilkan lebih banyak berstruktur jaringan 3D dibanding dengan CNT yang berstruktur penggaris/individu. Wang dkk, menemukan CNT yang kusut dan gumpalan yang gembur/longgar dengan luas ukuran distribusi, berada di klasifikasi Geldart-A. Selanjutnya Hao dkk, melakukan observasi dan mengungkapkan bahwa selama dalam proses, gumpalan yang besar berubah menjadi lebih kecil, oleh karena itu rata-rata diameter gumpalan yang tertinggal di dalam reaktor mendekati konstan. Berdasarkan kesimpulan mereka bahwa morfologi gumpalan nanotubes disediakan oleh proses fluidizasi yang baik selama proses penumbuhan dan menyebabkan tingginya kualitas hasil produksi dalam skala besar dengan biaya yang murah. Morancais dkk, juga mengamati MWCNT berbentuk 3D dengan potongan yang acak yang berukuran sekitar 110-225 mm. Kebalikan dengan bentuk yang diamati, mereka berpendapat bahwa jika fenomena gumpalan muncul, konversi karbon dan laju penumbuhan MWCNT menjadi menurun dan terjadi gumpalan pada kondisi fluidizasi yang rendah, dimana kurangnya campuran powder yang menyebabkan rendahnya aliran gas.

Sebelumnya, FBCVD tidak dapat menghasilkan CNT yang lurus dengan anggapan dihambat oleh proses ini.Perbandingan penumbuhan CNT dengan katalis yang sama antara fixed bed dan fluidized bed, menunjukkan bahwa dengan metode FBCVD akan menghasilkan CNT dengan area permukaan spesifik yang tinggi dan stabilitas termal yang baik. Bahkan, menyebabkan transfer massa dan panas lebih efektif, diameter CNT lebih kecil dengan sedikit cacat kisi, jika dibandingkan dengan fixed bed. Perlu menjadi perhatian bahwa dengan metode FBCVD menghasilkan CNT dengan diameter rata rata yang kecil dan tingkat kristalin yang tinggi dan sifat pancaran yang baik. 

Dengan pertimbahan hasil yang diperlihatkan, sangat beralasan untuk mendeklarasikan sifat yang menonjol dari CNT dengan metode FBCVD menjadi kabur/tidak jelas. Sifat hidrodinamik dan termodinamik pada penumbuhan CNT ini belum dipahami. Review ini sukses mengkaji beberapa topik yang berbeda sebelum melakukan produksi CNT dalam skala besar dengan mengaplikasikan FBCVD.
1. Pengoptimasian hasil CNT berkarakteristik fluidization, yakni diameter katalis-penyangga, tinggi static bed, nilai laju alir.
2. Pengkajian sifat panas, massa dan momentum CNT
3. Pengkajian interaksi faktor parametrik
4. Pengkajian morfologi partikel dan yang mempengaruhi proses, khususnya gumpalan/tumpukan
5. Perancangan proses secara berkesinambungan.

Kesimpulan
Produksi CNT secara massal menjadi tantangan utama dan genting/kritis untuk aplikasi selanjutnya. Secara signifikan, beberapa tahun terakhir terus dikembangan metode baru CVD untuk hasil yang komersial. Hal ini didukung melalui penggunaan fluidized bed reactors. Pedoman yang mendasar untuk mengontrol FBCVD diperoleh dari investigasi dengan mekanisme yang berbeda, yang ditentukan dari stuktur dan karakteristik CNT yang dihasilkan. Akan tetapi, penelitian FBCVD akan terus memperbaiki yield, purity, dan selectivity CNT. Beberapa tantangan dan ke-ambigu-an terkait CVD dan FBCVD telat disoroti dalam makalah ini. Dan telah diselidiki sebelumnya, baik secara teori maupun secara eksperimen, sehingga wajib untuk mempelajari efektifitas parameter pada proses FBCVD. Ini akan memberikan kontribusi terhadap desain dan pengoperasian hasil CNT yang komersial. Saat ini masih dibutuhkan banyak eksperimen secara khusus dalam skala atas dengan mempertimbangkan faktor biaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar