Sabtu, 07 April 2018

Tugas 10 Review (Metpen)

Carbon nanotubes-properties and applications: a review
Khalid Saeed and Ibrahim
Department of Chemistry, University of Malakand, Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan
Review Articles Carbon Letters Vol. 14, No.3, 131-144 (2013) 

Abstrak
Carbon Nanotube (CNT) merupakan satu dari penemuan terunik di lingkup nanoteknologi. CNT telah dikaji dengan teliti selama dua dekade melalui beberapa penelitian di dunia disebabkan oleh adanya potensi besar di berbagai bidang. CNT adalah graphene yang tergulung berhibibridisasi SP2. Aspek penting dalam CNT adalah sifatnya ringan, berukuran kecil dengan aspek rasio tinggi, kekuatan tarik baik, sifat konduksi baik, membuat CNT dapat berfungsi sebagai pengisi pada berbagai material yang berbeda seperti polimer, permukaan logam dan keramik. CNT juga berpotensi pada aplikasi di bidang nanoteknologi, nanomedikal, transistor, aktuator, sensor, membran, dan kapasitor. Terdapat beberapa tehnik yang digunakan untuk mensintesisCNTs. Termasuk metodearc-discharge, chemical vaporize deposition (CVD),laser-ablation, dan metode sol-gel. CNTs dapat berbentuk single-walled, double-walled dan multi-walled. CNTs memiliki sifat mekanik, elektrik, dan optik yang unik, semuanya telah dipelajari secara ekstensif. Dalam revies ini fokus pada sintesis, fungsi, sifat dan aplikasi CNTs. Racun CNTs juga dipaparkan secara ringkas. 

1. Pendahuluan
Beberapa tahun terakhir ini, banyak penelitian yang berfokus pada nanoteknologi dan nanokomposit. Para peneliti berfokus pada filler dan memperkenalkannya ke dalam polimer untuk menghasilkan komposit dengan sifat tertentu. Jika pengisi adalah nanomaterial, maka komposit akan berbentuk nanokomposit. Nanoteknologi perlahan lahan membawa perubahan dalam kehidupan sehari hari. 

1.1 Nanoteknologi
Kata “nano” berasal dari bahasa Yunani, yang berarti kerdil (kecil); dalam eksperimen saintis pada level nano (skala atomik) yang dilakukan dengan instrumen saintis dikenal sebagai nanoteknologi, yang telah dikenal baik pada tida dekade terakhir. Kata “nanoteknologi” dicetuskan oleh Nario Taniguchi pada tahun 1974, di Jepang. Dia mengatakan bahwa “Proses nanoteknologi terdiri dari beberapa tahap antara lain: separasi, konsolidasi, dan deformasi material oleh satu atom atau satu molekul”. Nanoteknologi dapat dieksplor secara luas disebabkan karena sifat dan struktur materialnya. 

1.2 Carbon Nanotubes (CNTs) 
CNTs, juga disebut dengan buckytubes, adalah molekul karbon berbentuk silinder dengan sifat yang unik, sehingga berpotensi digunakan pada berbagai aplikasi yang berbeda. Termasuk pada nanoelektronik, optik, dan aplikasi material. CNT juga terbukti memiliki sifat termal, mekanik dan elektrik yang kuat. CNT merupakan family fullerene, yang ditemukan oleh Kroto pada tahun 1985. Buckyballs adalah fullerene berbentuk bola, sedangkan CNTs berbentuk silinder, dengan paling sedikit terdapat satu penutup di ujung berbentuk setengah bola dengan struktur buckyball. Nama CNT ditentukan berdasarkan ukuran, dimana ukuran diameter nanotube berukuran beberapa nanometer. Iijima yang pertama mensintesis multi-walled carbon nanotubes (MWNTs) pada tahun 1991 menggunakan metode arc-evaporation sederhana. Namun, CNTs ditemukan jauh sebelum penelitian tersebut, yang menggambarkan bahwa karbon memiliki allotof yang berbeda. Pada tahun 1952, Radushkevich dan Luckyanovich melaporkan telah menemukan bentuk karbon seperti cacing. Selama observasinya, CNTs tersebut terbentuk dari dekomposisi karbon monoksida (CO) pada partikel besi pada suhu 600oC. Pada beberapa eksperimen, gambar transmission electron microscope (TEM) dan karakteristik lainnya, penulis menyimpulkan bahwa hasil tersebut terdiri dari serabut panjang atau karbon kristal berbentuk mie dengan diameter sekitar 50 nm. Penemuan nanotubes yang secara kebetulan menyebabkan keberuntungan di bidang nanoteknologi pada saat itu, demikian juga pada bidang lainnya sebelum dan sesudahnya. 

1.3 Struktur CNTs
CNTs, juga dikenal sebagai fullerenes berbentuk tabung yaitu lembaran grapene yang berbentuk silinder dengan atom karbon berikatan sp2. CNTs adalah lembaran grapene yang tergulung membentuk allotrof karbon, termasuk graphite, fullerenes dan CNTs. 

1.4 Tipe CNTs
CNTs dapat dibagi menjadi tiga kategori bergantung pada jumlah tabung yang ada pada CNTs. Yang dideskripsikan berikut ini
1.4.1 Single-walled CNTs
Single-walled CNTs (SWCNTs) terbuat dari lembaran graphene tunggal dengan diameter dari 1-2 nm. Panjangnya dapat bervariasi bergantung pada metode preparasi.
1.4.2 Double-walled CNTs
Nanotube yang terbuat dari dua karbon nanotube konsentris dengan tabung luar menutupi tabung dalam.
1.4.3 Multi-walled CNTs
MWCNTs terdiri dari banyak lapisan graphene yang tergulung dengan diameter antara 2 sampai 50 nm bergantung pada jumlah tabung graphene. Tabung ini memiliki jarak antar lapisan sekitar 0.34 nm.
1.4.4 Tipe yang berdasar pada chiralitas
Ciralitas merupakan faktor penting dalam menentukan sifat elektrik CNTs. Berdasarkan chiralitas terdapat 3 tipe CNTs yaitu chiral, armchair, dan zigzag. 

2. Sintesis CNT
CNTs dapat dipreparasi menggunakan berbagai metode, seperti metode arc-discharge­, Chemical Vapor Deposition (CVD), dan metode laser ablation

2.1 Metode Arc-discharge (Pancaran Elektroda)
Pada tahun 1991, Iijima melaporkan keberadaan spesies tabung baru, yang disebut CNTs. Tabung tersebut dihasilkan melalui metode penguapan pancaran elektroda yang sama digunakan dalam mensintesis fullerene di masa lalu. Karbon jarum dengan diameter antara 4 sampai 30 nm dan panjang mencapai 1 mm ditumbuhkan pada ujung elektroda karbon negatif yang berarti evaporasi pancaran eletroda karbon pada arus searah di atas bejana berisi argon (100 Torr). Ebbesen dan Ajayan melaporkan sintesis MWCNTs berskala besar melalui metode ini. 

Pemasangan arc-discharge meliputi dua elektroda tipis dengan posisi vertikal terpasang di tengah-tengah chamber. Elektroda rendah (katoda) menerima sepotong kecil besi selama fase evaporasi. Metode arc-discharge dijalankan diantara dua elektroda pada arus DC 200A bertekanan 20V. Dengan menggunakan tiga komponen, argon, besi, danmethane, dapat digunakan untuk mensintesis SWCNTs. Sintesis nanotube menggunakan metode arc-discharge, telah dilakukan oleh Bethuna dkk dengan menggunakan elektroda tipis anoda dengan lubang jenuh yang diisi dengan campuran bubuk logam murni (Fe, Ni dan Co) dan grafit. Elektroda diuapkan dengan arus yang relatif rendah 95-105 A bertekanan 100-500 Torr di atmosfer He. CNTs berkuantitas besar dihasilkan menggunakan metode ini oleh Journet dkk. Percikan dihasilkan diantara dua grafit elektroda pada reaktor beratmosfer helium (660 mbar). 

2.2 Laser ablation
Pada tahun 1996, Thess dkk mengurangi tinggi yield (>70%) CNTs, dengan cara metode laser ablation dari batang grafit dengan sedikit Ni dan Co bertemperatur 1200oC.
Metode ini, target grafit dibombardir dengan cahaya laser. Pertumbuhan tabung terjadi sampai beberapa agregat atom katalis berakhir pada nanotube. Partikel besar lainnya melepaskan atau melapisi beberapa karbon meracuni katalis. Hal ini memungkinkan tabung berakhir dengan ujung seperti fullerene atai dengan partikel katalis. 

2.3 Chemical vapor deposition
Pada tehnik sintesis diatas, dua masalah utama yang tersisa adalah realisasi produksi skala besar dan pengaturan sintesis. Namun, pada tahun 1996, CVD ditemukan dapat mensintesis nanotube. Metode ini mampu mengontrol arah penumbuhan pada substrat dan sintesis nanotube kuantitas besar. Selama proses ini, campuran gas hidrokarbon, acetylene, methane atau ethylene dan nitrogen dimasukkan ke dalam chamber reaksi. Selama reaksi, nanotube terbentuk di atas substrat melalui dekomposisi hidrokarbon pada temperatur antara 700oC-900oC bertekanan atmosfer. Tehnik ini memiliki dua keutamaan, aitu nanotube dihasilkan pada temperatur rendah, meskipun kualitas kurang baik, dan katalis dapat dideposisikan diatas substrat, yang mengizinkan CNTs dapat diadopsi dengan sturktur yang baik. 

2.4 Penumbuhan fase uap
Tehnik baru ini dimodifikasi dari CVD. Perbedaan utama yaitu pada sintesis CNT langsung dari gas reaksi dan logam katalis di dalam chamber tanpa substrat. Dua furnace ditempatkan didalam chamber reaksi. Katalis yang digunakan adalah ferrocene. Penguapan karbon katalis dijaga relatif pada temperatur rendah dalam furnace pertama. Partikel katalis dibentuk disini dan ketika mereka mencapai furnace kedua dan dekomposisi karbon diserap pada katalis ini melalui difusi, dimana mereka mengubah menjadi CNTs. 

2.5 Metode sintesis Flame
Metode lain adalah metode sintesis flame. Metode ini, memanfaatkan nyala hidrokarbon. Nyala ini membantu mulai dari awal sampai penumbuhan CNTs. Gas seperti CO, CH4, C2H2, C 2H4, dan C2H6, yang dihadirkan pada tempat nyala/api, yang kaya akan sumber karbon. Reaksi eksotermik dan energi kimia dilepaskan dalam bentuk panas pada penyangga api dengan reaksi deposisi karbon endotermik. Katalis juga dibutuhkan untuk menghasilkan reaksi untuk deposisi padatan karbon hitam. Penumbuhan CNTs pada bahan yang sama dengan CVD. Jika katalis sesuai dengan nyala dan kondisi reaksi yang dibutuhkan, maka CNTs berskala besar dapat diperoleh secara komersial. 

2.6 Trend sintesis CNTs saat ini
Akhir-akhir ini metode nebulized spray pyrolysis telah digunakan untuk mensintesis MWCNTs. Seprotan nebulisasi, merupakan faktor utama pada metode ini, yang dihasilkan oleh ultrasonic atomizer tertentu. MWCNT dengan diameter cukup seragam pada bentuk yang sejajar telah dihasilkan melalui metode ini. Dengan menggunakanultrasonic nebulizer, ferrocene (katalis) danethanol (pelarut dan sumber karbon) disemprotkan ke dalam tabung furnace pada temperatur tetap 800oC dengan argon berlaju 1 L/menit. Ethanol digunakan sebagai pelarut sama baiknya dengan sumber karbon yang disebabkan non-polusi alami, biaya rendah, produk yang tidak berbahaya (seperti CO) dan mengurangi pemeliharaan. Tingginya penumbuhan pada MWCNTs pada permukaan dapat dihasilkan. Keuntungan menggunakan metode semprotan nebulisasi ini adalah meringankan proses skala industri, reaktan dihasilkan didalam furnace secara terus menerus. 

3. Sifat CNTs
CNTs dilaporkan telah memiliki area permukaan yang tinggi, aspek rasio yang besar dan kekuatan mekanik yang sangat tinggi. Kekuatan tegangan CNTs 100 kali lebih baik dibanding dengan baja, dan sifat konduktifitas termal mencapai tembaga. Sifat unik ini membuat CNTs merupakan kandidat terbaik sebagi pengisi pada polimer dan keramik yang berbeda untuk menghasilkan CNTs yang sesuai dengan keinginan konsumen. Juga telah diprediksi bahwa CNT berbasis field-effect transistors (FETs) akan segera menggantikan silikon mereka berbasis analog yang seimbang. CNTs juga dapat bergabung menghasilkan sifat elektrik, mekanik, dan termal yang unik. 

3.1. Sifat elektrik CNTs
Sifat elektrik CNTs bergantung pada bentuk chiralnya. Beberapa peneliti telah membuktikan sifat konduktif yang unik. Hasil ini disebabkan karena perbedaan geometri seperti cacat, chiralitas, perbedaan diameter dan derajat kristalisasi pada struktur tabung, sehingga berpengaruh pada sifat elektronik CNTs. SWCNTs adalah logam dengan resistivitas dengan rentang dari 0,34 x 10-4 sampai 1,0 x 10-4 ohm.cm. Dengan mengingat ikatan atom karbon pada CNTs, yang tersusun dengan kisi hexagonal, setiap atom karbon berikatan kovalen dengan tiga atom karbon tetangganya melalui molekul orbital sp2. Sehingga, 4 elektron valensi yang tersisa bebas di setiap unit, dan elektron bebas terdelokalisasi pada semua atom dan memiliki kontribusi terhadap sifat elektrik CNTs. Sehingga CNTs dapat memiliki tipe kondusi atau semi-konduksi bergantung pada tipe chiralitasnya. Semikonduktor SWCNTs biasanya dibentuk dari semikonduktor tipe p. MWCNTs tersusun dari beberapa tabung SWCNTs dan oleh karena itu tidak mungkin menjadi konduktor satu dimensi. Pseudo-gap telah diamati melalui pengukuran I-V, sebagai sifat konduksi murni. 

Berdasarkan pembahasan diatas, diperoleh bahwa sifat elektrik SWCNTs dan MWCNTs relatif baik. Hal ini menarik perhatian sangat besar di berbagai bidang sejak satu dekade yang lalu. SWCNTs, balistik murni dari transfor elektron, yang digambarkan sebagai quantum wires. Di sisi lain, transpor pada MWCNTs ditemukan hampir difusi atau quasi-balistik. CNTs, dengan sifat elektroniknya dapat digunakan sebagai transistor dan dalam aplikasi elektronik baru. Aplikasi terbaru dari nanotube adalah emiter. Aspek penting CNT pada emiter adalah bahwa emisi dapat diperoleh pada tegangan rendah. CNTs juga dapat digunakan sebagai sensor, chip triodes berskala mikron pada frekuensi tinggi (>200 MHz), vakum mikroelektronik dan pembangkit sinar-X. 

3.2. Sifat Mekanik CNTs
Dengan mengingat bahwa CNTs merupakan material yang kuat. Beberapa literatur mengungkapkan bahwa CNTs merupakan material yang sangat kuat, khususnya yang searah dengan sumbu. Rentang modulus Young’s dari 270 sampai 950 Gpa, namun kekuatan tariknya juga sangat tinggi, dalam rentang 11-63 Gpa. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa dalam arah radial, CNTs lebih lunak. Observasi TEM pertama mengenai elastisitas radial menunjukkan gaya Vander Waal’s dapat merusak bentuk dari dua nanotube yang berdekatan. Selanjutnya, indentasi-nano dengan atomic force microscope (ATM) yang dilakukan oleh beberapa peneliti dengan kelompok yang berbeda melakukan pengukuran elastisitas radial SWCNTs. Menunjukkan hasil bahwa CNTs sangat lunak pada arah radial. Elastisitas CNTs karena arah radial sangat penting, khususnya pembentukan nanokomposit CNT dan sifat mekaniknya, dimana tabung yang tertanam dikenakan deformasi yang besar pada arah sebaliknya ketika beban diaplikasikan pada struktur komposit. Karena ikatan karbon-karbon diamati pada grafit terhadap sifat kekuatannya, CNTs juga sangat berpotensi sebagai material paling kaku dengan sturktur terkeras bahkan yang disintesis oleh para saintis. Pengkajian CNTs dengan TEM menujukkan bahwa material fleksibel dan tidak dapat memutus ikatan. Perhitungan sederhana secara teori telah dilakukan untuk memprediksi sifat mekanik CNTs. Percobaan pertama dilakukan oleh Treacy dkk dalam menentukan modulus Young’s untuk individu MWCNTs, yang mengukur amplutudo vibrasi termal dalam CNTs menggunakan TEM. Mereka menyatakan bahwa nanotubes memiliki rata-rata modulus memiliki rata-rata modulus Young’s antara Y=1 – 1,8 Tpa, yang sangat tinggi dibanding dengan modulus Young’s karbon fiber yang ada (Y ≥ 800 Gpa). Berbagai kelompok peneliti melakukan pengukuran langsung mengenai gaya ikatan MWCNTs sebagai fungsi pergeseran pada AFM. Nilai modulus Young’s ditemukan antara 0,32 sampai 1,47 Tpa. Falvo dkk, melakukan observasi mengenai MWCNTs yang dapat membelok dengan sudut yang tajam tanpa mengalami patahan di beberapa struktur menggunakan ujung AFM. Endo dkk, mengobservasi kerusakan ketika penumbuhan CNTs dengan penguapan dalam cairan nitrogen, bagian dalam pipa dapat bertahan pada tekanan ini. Zhu dkk, mengaplikasikan tekanan tinggi (50 Gpa) pada temperatur ruang, menggunakan lecutan gelombang, seperti MWCNTs dengan arc-discharge dengan catatan bahwa tabung tidak rusak tetapi ambruk, perubahan kulit terluar menjadi grapene yang meringkuk ketika inti dalam memperlihatkan inti yang cacat. Berbagai teori dikerjakan pada sifat mekanik CNTs yang dilakukan oleh Sinnot dkk, menemukan bahwa SWCNTs memiliki modulus Young’s yang lebih tinggi dari berlian. Yakobson dan Ru melaporkan mekanisme transformasi CNT dibawah tegangan uniaxial, terutama cacat pentagon-heptagon tabung dibawah tegangan tinggi. Guanghua dkk juga menunjukkan teori bahwa sifat mekanik SWCNTs bergantung pada diameter. Mereka memperkirakan modulus Young’s nanotubes berdiameter sekitar 1 nm, berada pada rentang 0.6 – 0.7 Tpa. Hernandez dkk juga menentukan nilai modulus Young’s yang sudah sesuai dengan eksperimen MWCNTs (1-1,2 Tpa). Mereka juga melaporkan bahwa meningkatnya diameter sebanding dengan peningkatan sifat mekanik dan diameter meningkat dengan nilai tertentu, modulus Young’s tabung mendekati modulus young grafit. Yu dkk, melakukan pengukuran modulus Young’s individu SWCNTs, melaporkan nilanya berada pada rentang 320 sampai 1470 Gpa dan menentukan kekuatan SWCNTs pada lingkaran setiap pengikat yaitu antara 13 sampai 52 Gpa. 

3.3. Sifat Termal CNTs
Struktur grafit tergulung, sangat berperan pada CNTs dan berpengaruh tidak hanya sifat elektronik dan mekaniknya tapi juga sifat termal. Meskipun ukurannya sangat kecil, pentingnya efek kuantum, dan temperatur rendah khususnya konduktivitas termal dan panas menunjukkan bukti secara langsung pada kuantisasi 1 dimensi struktur pita fonon pada CNTs. Penggabungan nanotube murni dan yang difungsikan pada material yang berbeda dapat memiliki konduktivitas termal yang dobel dengan pembebanan hanya 1%, menunjukkan matrial komposit nanotube dapat digunakan pada aplikasi termal dalam industri. Kim dkk, melakukan pengukuran konduktivitas termal pada individu SWCNT dan menemukan menjadi 3.000 W/K (lebih tinggi dari grafit) pada temperatur ruang. Selain ini mereka juga menetukan nilai dengan dua susun lebih tinggi dari besar yang ditentukan untuk gumpalan MWCNTs. Studi yang sama tentang SWCNTs menghasilkan lebih tinggi dari 200 W/Mk untuk SWCNTs. Beberapa faktor yang mempengaruhi sifat termal seperti jumlah mode fonon aktif, panjang lintasan bebas untuk fonon, dan batas permukaan hamburan. Sifat ini juga bergantung pada susunan atomik, diameter dan panjang tabung, jumlah struktur dan morfologi cacat, seperti kehadiran impuritas pada CNTs. 

4. Penyebaran CNTs
Salah satu masalah yang ditemukan dalam CNTs adalah gumpalan tabung yang disebabkan oleh lemahnya gaya intermolekul, terutama pada sulitnya penyebaran pada medium polimerik yang berbeda dan bahkan pada larutan yang berbeda. Fungsionalisasi CNTs dilakukan untuk mengatasi bentuk gumpalan dan buntalan, yang juga meningkatkan penyebaran pada material dan larutan polimetrik. Sehingga, pemurnian atau fungsionalisasi CNTs sangat penting untuk meningkatkan reaktifitas dan homogenitas penyebaran. Pemurnian menghilangkan partikel yang tidak diingiknan terhadap sisa setelah proses sintesis, sedangkan fungsionalisasi diperkenalkan dengan kelompok fungsional tertentu kedalam rantai atau akhir CNTs. Metode berbeda digunakan oleh peneliti untuk fungsionalisasi dan penyebaran CNTs. Termasuk hal berikut: 

4.1 Fungsionalisasi Non-Covalent
Tipe fungsionalisasi berbasis pada gaya Van der Waal’s. Selain gaya ini, juga dilaporkan terdapat gaya hidropobik atau interaksi Pi-Pi. Fungsionalisasi non-kovalen sangat penting dan menarik karena tidak merusak atau mengubah struktur CNTs untuk sebuah perluasan yang besar, yang memberikan sebuah pekembangan yang besar. Selain gaya Van der Waal’s beberapa gaya lain juga terlibat, yang menyebabkan efisiensi fungsionalisasi tipe ini. Beberapa contoh umum tipe fungsionalisasi ini termasuk penggunaan surfaktan, khususnya terhadap SWCNTs, pembalut CNTs dan interaksi protein non-kovalen. 

4.2 Fungsionalisasi Covalent
Fungsionalisasi tipe ini, mengingikan kelompok yang terikat pada sisi dinding atau ujung CNTs secara permanent dengan cara yang tidak dapat diubah. Berbagaikelompok bahan kimia seperticarboxylic, p-aminobenzioc acid, flourine, ditambah kelompok dicholo-carbon terikat secara kovalen dengan material polimerik dan tersebar baik pada larutan berbeda. Kerugian utama pada fungsi kimia adalah produksi cacat CNTs. 

4.3 Penyebaran CNTs menggunakan surfactants
Penggunaan surfaktan juga dilaporkan dengan tujuan penyebaran CNTs dalam material polimerik. Beberapa surfaktan penting sepertipolyethylene glycol, sodium dodecyl sulfate, dan dodecyl-benzena sodium sulfonate biasanya digunakan untuk mengurangi kecenderungan gumpalan CNTs dalam air dan larutan lainnya. Telah dikemukakan bahwa keberadaan cincin benzena bertanggungjawab pada tingginya efisiensi penyebaran CNTs. Interaksi penumpukan-p pada cincin benzena kedalam permukaan CNTs dipercaya dapat meningkatkan rasio penyerapan surfaktan. Juga ditentukan bahwa selain kelompok aromatik, kelompok naphtenic juga memberikan afinitas tabung surfaktan yang baik. 

4.4 Penyebaran secara fisika melalui ultrasonik
Penyebaran secara fisika juga penting untuk menurunkan kecenderungan penggumpalan CNTs. Sonication menyediakan vibrational tertentu untuk menggumpalkan CNTs, mengatasi gaya tarik dengan nanomaterial dan menjadi tersebar dengan pelarut atau material 

5. Aplikasi CNTs
Nanoteknologi merupakan teknologi yang terbaru dan paling berkembang, menyajikan beberapa keuntungan dan manfaat untuk material terbaru dengan sifat yang diperbaiki secara signifikan. Nanoteknologi dapat digunakan pada berbagai bidang dalam aplikasi yang berbeda, termasuk nano-medicine, energi, lingkungan dan sensor. Meskipun bidang nanoteknologi sangat banyak dan merupakan material terbaru, potensi CNTs sangat menjanjikan. Sejak ditemukan oleh Iijima pada tahun 1991, perkembangan nanoteknologi menjadi sangat cepat yang disebabkan karena banyaknya aplikasi yang dapat digunakan. Berbagai penyimak dan peneliti berupaya menghasilkan sifat terbaru dan mengembangkan jumlah aplikasi terbaru di berbagai medan, dari ilmu material, obat-obatan, elektronik dan penyimpanan energi, dengan beberapa studi yang berfokus pada nanoteknologi dan penggunaan CNTs sebagai filler. Aplikasi menarik dari CNTs yang lain adalah dapat digunakan untuk aplikasi yang membutuhkan konduktivitas dan kapasitas penyerapan yang tinggi dan untuk menghasilkan kekuatan komposit yang tinggi, sumber bahan bakar, divais konversi energi, divais medan emisi, divais penyimpan hidrogen dan divais semikonduktor. Percobaan air limbah melalui CNTs juga sangat berkembang dan menarik untuk diteliti. Terkait masalah utama mengenai CNTs adalah tingginya biaya dan karakteristik tidak terbarukan. Saat ini, upaya dalam mengembangkan metode preparasi CNTs dengan biaya yang rendah. Beberapa aplikasi CNTs yang sangat penting dan menjanjikan didiskusikan dibawah ini. 

5.1 CNTs sebagai pengisi
Penggunaan CNTs sebagai filler pada material berbeda berbentuk nanokomposit merupakan salah satu yang berkembang pada nanoteknologi. Beberapa peneliti bekerja pada bidang nanokomposit mencoba menggunakan CNTs sebagai filler. Ide utama menggabungkan CNTs pada polimerik berbeda dan material lain adalah untuk memperbaiki sifat material. Hal yang telah dilakukan adalah memperbaiki sifat mekanik, elektrik dan termal telah berada pada rentang yang ideal. Garcia-Gutierrez dkk, melakukan preparasi proses pelelehan yang diijeksikan yang dibentuk dengan polybutylene terephthalate (PBT)/ nanokomposit SWCNTs dan menyampaikan bahwa SWCNTs mempengaruhi orientasi polimer selama pencukuran dan juga contoh sifat kristalisasi PBT. Soichia dkk menemukan bahwa modulus tarik dan kekuatan yield meningkat dengan bertambahnya pemuatan SWNT ke dalam SWNTs/polyimide nanocomposite. Dengan penyebaran yang baik, mereka menunjukkan bahwa sifat mekanik polyimide meningkat. Bhattacharyya dkk, dilakukan dengan campuran pencairan styrene maleic anhydride (SMA) dienkapsulasi SWCNTs dengan sebuah matrix dengan polyamide-12 (PA 12) pada extruder sekrup kembar yang berbentuk kerucut. Proses enkapsulasi melalui SMA copolymer menyebabkan besarnya penyebaran SWNT dan sehingga meningkatkan adesi interfacial diantara PA12 dan SMA yang dimodifikasi dengan SWNT. Ini menyebabkan meningkatnya sifat mekanik yang dihasilkan. Saeed dan Park mempreparasikan MWNT/nylon nanokomposit melalui in situ bulk polymerization. Mereka menggunakan MWNTs murni (P-MWNTs) dan MWNTs yang dimurnikan melalui asam untuk memperkuat material dan studi sifat mekanik, termal, elektrik, dan reologis dan juga morfologi strukturan dan temperatur kristalisasi melalui berbagai tehnik dan membandingkan sifat nanokomposit keduanya P-MWNT/nylon dan A-MWNTs/nylon. Telah disimpulkan bahwa A-MWNTs dapat menyebar dengan baik pada nylon dibandingkan dengan P-MWNTs yang menyebabkan hadirnya kelompok fungsional pada A-MWNTs. Temperatur kristalisasi meningkat dengan meningkatnya rasion MWNT dalam nylon. Prashantha dkk, mempreparasikan MWNTs dan polypropylene (MWNT/PP) dan MWNTs dan nanokomposit polypropylene-grafted maleic anhydride (MWNT/PP-g-MA) dan mempelajari sifat reologis, mekanik, dan morfologi nanokomposit dengan berbagai komposisi MWNTs menggunakan tehnik rentang. Mereka melaporkan bahwa MWNTs memiliki penyerapan yang lebih baik pada PP-g-MA dibanding dengan PP, dan dilaporkan bahwa MWNTs dan PP-g-MA memiliki adesi yang baik dan kekuatan inrfacial yang kuat dibandingkan dengan MWNTs/PP karena MWNTs/PP-g-MA memiliki sifat mekanik yang tinggi dan memperbaiki ambang perembesan secara reologis. Zhang dkk, membuat poly (adipic acid-hexamethylene diamine) (PA66) dan F-MWNTs. Amino-MWNTs telah digunakan dalam proses fabrikasi, dan penyebaran A-MWNTs telah meningkatkan pembentukan asam (HCOOH) setelah fungsionalisasi PA66. Material PA66 dicangkokkan kedalam permukaan A-MWNTs. Disimpulkan bahwa panjang rantai PA menurun dengan bertambahnya A-MWNTs, temperatur dekomposisi terhadap PA_MWNTs lebh tinggi dari komposit PA66 murni, dan kekuatan modulus telah diperbaiki dengan penambahan A-MWNTs. 

5.2 Divais Elektronik sebagai sumber medan emisi
CNTs dapat juga digunakan dalam divais elektrik sebagai sumber medan emisi. Hal ini dapat dilakukan ketika diaplikasikan diantara permukaan CNTs dan anoda. Elektron dengan mudah diemisikan dari ujung yang disebabkan adanya lengkungan dalam CNTs dalam bentuk pentagon atau disebabkan teroksidasinya ujung. Dengan prinsip ini, CNTs dapat digunakan untuk pembuatan banyaknya divais elektronik, termasuk layar datar, sumber cahaya yang kuat, lampu yang terang, dan sumber sinar-X. Meskipun CNTs merupakan penghasil emisi yang baik, nanokomposit CNTs juga baik permukaan emisi elektron pada kondisi vakum. Terdapat beberapa keuntungan ketika menggunakan CNTs sebagai penghasil emisi elektron. Termasuk komponen yang berlaku seumur hidup, medan emisi yang stabil padaperiode yang panjang, berpotensi pada ambang emisi yang rendah, ketiadaan vakum ultra yang tinggi, dan densitas arus yang tinggi. Telah dilaporkan bahwa densitas arus yang besar, tingginya mencapai 4 A/cm2

5.3 Baterai (baterai ion litium)
Litium merupakan unsur yang sangat berguna, memiliki sifat yang unik disebabkan karena rendahnya elektronegatif dan karena elektron mudah didonasikan. Sehingga, kandidat terbaik untuk pembuatan baterai yang ringan dan efisien. Namun, walaupn terdapat beberapa keuntungan tersebut, reaktifitas Li yang tinggi dapat diterapkan, sebagai logam yang kehilangan efieiensinya. Masalah ini dapat diselesaikan dengan mengkombinasikan aplikasi CNTs dan Li melalui penambahan ion Li pada CNTs. Hal ini memungkinkan ion Li+ berpindah dari grafit anoda ke katoda. Medium pemisah dibutuhkan antara anoda dan katoda, yang biasanya polyolefin. Secara teori kapasitas penyimpanan Li dikontrol oleh penambahan Li+ dan laju de-intercalation [110, 111]. Belakangan ini, Frackowiak dan Beguin menunjukkan bahwa CNTs dapat digunakan pada baterai ion Li. Menurut penulis, kapasitas irreversibel yang tinggi yang memungkinkan penggunaan CNTs. Meunier dkk, melakukan perhitungan untuk menentukan fenomena charging dan discharging pada baterai Li+. Mereka menyarankan bahwa rusaknya permukaan material SWNT secara kimia dan mekanik, merupakan salah satu yang dapat meningkatkan penyimpanan elektrokimia baterai. Dengan berbagai kemungkinan ini, beberapa perusahaan elektronik memulai menggunakan karbon nanofiber dan nanotubes sebagai elektroda dalam baterai Li+ untuk menambah kapasitas muatan dan waktu pakai. 

5.4 CNTs sebagai superkapasitor dan aktuator)
Karena luasnya area permukaan demikian juga konduktivitas elektrik yang tinggi, CNTs menjadi materail tebaik untuk digunakan sebagai divais elektrokimia. Niu dkk, dan Ma dkk yang pertama menyatakan bahwa elektroda secara pirologi menumbuhkan MWNTs, memungkinkan mencapai kapasitansi spesifik yang sangat tinggi dalam sel individu dalam divais yang tediri dari 38 % berat H2SO4 elektrolit. Sel dapat mencapai densitas melebihi 8,000 W/kg. Belakangan ini, studi yang sama dilakukan oleh Frackowiak dan Beguin dan Ma dkk, yang mendemonstrasikan komposit MWNT-polypyrrole yang dapat mencapai kapasitansi 163 F/g. Superkapasitor CNT diaplikasikan untuk divais yang membutuhkan daya tinggi dan kapasitas penyimpanan yang tinggi. Densitas mencapai 20kW/kg pada energi densitas 7 Wh/kg. CNT yang tertanam pada superkapasitor dapat digunakan untuk memberikan asselerasi yang cepat dan tempat penyimpanan energi secara elektrik untuk elektrik kendaraan. Aktuator merupakan divais yang penting, tetapi masalahnya terkait pada efisiensi yang menurun seiring dengan meningkatnya temperatur. Oleh karena itu, aktuator yang dimodifikasi dengan CNT disiapkan oleh beberapa peneliti. Dilakukan relatif pada tegangan rendah dan temperatur tinggi 350oC. Sebagai contoh, tegangan maksimum diobservasi pada aktuator SWNT adalah 26 Mpa. Nilai ini dibandingkan dengan kekuatan alami, 100 kali lebih besar dari nilai kekuatan alami. 

5.5 Sensor
Sensor adalah divais pendeteksi yang sangat penting, yang sekarang penggunaan di berbagai bidang. Efisiensi biosensor dan sensor molekuler dapat meningkat dengan penambahan CNTs didalamnya. Dengan tehnik chemical force microscopy, Wong dkk yang pertama mendemonstrasikan bahwa memungkinkan untuk pendeteksi fungsi kimia untuk mengikatkan ujung CNT. Sehingga, memungkinkan untuk membangun berbagai tipe sensor yang terdiri dari pellet komposit nanotube, yang sangat sensitif terhadap gas dan yang dapat digunakan untuk memantau puncak pada tanaman kimia. Collins dkk, melaporkan pekerjaan yang telah dilakukan di bidang yang sama bahwa SWNTs sangat sensitif terhadap udara dan kondisi vakum yang dilihat pada tingkat resistansi dengan variasi besar pada sampel SWNT. Mereka juga menambahkan bahwa MWNTs dapat digunakan sebagai sensor yang efisien untuk NH3, H2O, CO2 dan CO. Varghese dkk mendeteksi perubahan tingkat resistansi dan kapasitansi CNTs pada kondisi yang sedikit modifikasi. Pada tahun 2002, sensor dengan sensitifitas tinggi dan sensor ­microwave-resonant dengan respon yang cepat dipreparasi untuk mendeteksi NH3 menggunakan SWNTs atau MWNTs. Sebagai tambahan pendeteksi gas, CNTs dan kompositnya dapat digunakan sebagai sensor tegangan yang sensitif terhadap lingkungan. Wood dan Wagner mencatat bahwa CNTs sangat sensitif terhadap pencelupan cairan atau proses penanaman polimer, sebagai nanotube yang dibentuk dengan sedikit media cairan yang berbeda. 

5.6 Penyimpan gas dan hidrogen
Disebabkan oleh adanya silinder yang berongga, CNTs dapat bertindak sebagai kontainer logam dan gas yang efisien. Telah ditemukan beberapa bahan kimia penting, seperti logam, logam karbida, dan oxida, dapat diperkenalkan pada inti CNT melalui metode yang berbeda, termasuk percobaan kimia, metode arc-discharge, reaksi zat padat dan tehnik elektrokimia. Namun, masalah utama yang berkaitan dengan tehnik yang dihubungkan denganfakta bahwa CNTs tidak dapat dienkapsulasi pada bahan gas. Studi akhir-akhir ini mengungkapkan bahwa H2 dan Ar dapat tersimpan berturut-turut pada SWNTs dan MWNTs. Terrones dkk, mendemosntrasikan eksperimen yang memungkinkan memperkenalkan gas nitrogen pada MWNTs menggunakan proses tahap tunggal. Mereka juga melaporkan bahwa MWNTs dapat diisi melalui semprotan pirolisis ferrocene dan larutan benzyl amine. Penelitian yang sama dilakukan oleh Trasobares dkk, tetapi mereka menggunakan bubuk pirolisis ferrocene dan camphor dibawah atmosfer ammonia. Penyimpanan bahan kimia berbeda dalam CNTs bermanfaat dalam pembuatan sel bahan bakar yang digunakan terutama untuk daya kendaraan listrik. Sayangnya, terdapat beberapa kontroversi mengenai penyimpanan hidrogen bertekanan tinggi. Perlu ditekankan bahwa kapasitas penyimpanan hidrogen pada CNTs berada pada rentang 0.1 sampai 66 wt %. Hirscher dkk, membuktikan pengaruh impuritas terhadap hasil yang dilaporkan sebelumnya menyerap sampai 7%. Berdasarkan tinjauan teori, density functional theory yang digunakan untuk menghitung kapasitas penyimpanan hidrogen pada CNTs. Mekanisme berbeda dimana CNTs memungkinkan menyerap molekul hidrogen, termasuk penyerapan kimia, penyerapan interstisi dan pembengkakan susunan nanotube

Situasi diatas jelas menunjukkan bahwa CNTs tidak dapat menjadi material terbaik untuk penyimpanan hidrogen, tetapi eksperimen tambahan dan perhitungan selanjutnya seharusnya dapat mengklarifikasi hal tersebut. Penyerapan gas lain seperti He, NH3, N2 dan SF 6 dalam CNT sebagai buih karbon, yang akhir-akhir ini telah diteliti oleh Tanaka dkk. 

5.7 Scan ujung jarum
Scan ujung jarum sangat penting untuk menentukan gambar dengan resolusi yang tinggi. Jika MWNT diikatkan pada scanning, maka menghasilkan gambar dengan resolusi yang lebih baik dibanding scanning normal. Sekarang ini, Seiko Instruments and Daiken Chemical Company mencoba mengkomersialkan scanning tersebut. Modifikasi ujung nanotube secara kimia dapat digunakan sebagai sensor untuk mendeteksi zat kimia tertentu dan/atau grup secara biologi. Sensor ini penting untuk mendeteksi tambahan atau keberadaan zat illegal. Kim dan Lieber menentukan secara eksperimen kemungkinan pembuatan jepitannanotube melalui penempelan dua nanotube pada ujung scanning. Alat nano ini dijalankan melalui interaksi elektrostatik antara dua karbon silinder. Pencapaian ini jelas menunjukkan kemajuan pada nanotube dalam teknologi, dan jelas bahwa masa depan yang tidak lama lagi, kemajuan selanjutnya akan terus dicapai. 

5.8 Divais elektronik menggunakan CNTs
CNTs adalah nanomaterial penting yang dapat digunakan dalam divais elektonik untuk memperbaiki sifat divais. Tans dkk, membuat terminal tiga yang dapat digantikan dengan SWNTs. Molekul SWNT adalah semikondukting dan dihubungkan dengan logam nanoelektroda. Hasil pada kapasitansi rendah sangat baik. Masalah utama yang terkait dengan nanotube adalah sulitnya manipulasi, sehingga metode lainnya diperlukan untuk merancang pengontrolan panjang dan sifat elektronik nanotube individu melalui nanostruktur STM. Postma dkk, mendeskripsikan persilangan dan lekukan SWNTs dapat dihasilkan melalui AFM. Tehnik ini memungkinkan untuk memotong nanotubemenjadi pendek menggunakan pengontrol tegangan yang diaplikasikan pada ujung STM dan untuk membuat divais nanotube kecil yang dapat digunakan untuk konstruksi mesin molekuler, arus berskala nano dan material nanoelektrik lainnya. Terdapat beberapa contoh eksperimen yang mengindikasikan bahwa CNTs dapat membawa arus densitas sebesar 109 A/cm2, nilai ini lebih rendah dari logam (105 A/cm2). Bachtold dkk, dan Huang dkk mendemonstrasikan pertama kali pembuatan transistor ­field-effect memperlihatkan keuntungan yang besar, rasio on-off yang besar dan pengoperasian temperatur ruang. Penelitian menunjukkan bahwa arus transistor satu, dua dan tiga memiliki rentang operasi digital yang logik. Contohnya temasuk inverter, logik NOR, statis random-acces memory cell, dan osilator cincin AC. Kelompok Harvard melakukan cara yang sama untuk menghasilkan nanowired p-n junction yang bersilangan dan susunan junction yang dikonfigurasi melalui kunci struktur pintu logik OR atau NOR, yang menunjukkan substansi yang besar. Mereka juga menggunakan untuk pengembangan tehnologi komputer terbaru di masa yang akan datang. Derycke dkk, mendemonstrasikan bahwa CNTs dapat digunakan sebagai FET. Peneliti juga menunjukkan CNTs murni yang memiliki sifat seperti transistor tipe-p, dimana nanotube didoping dengan divais tipe-n. Kedua tipe ini dapat diintegrasikan untuk membuat inverter tegangan. Jaavey dkk mendemostrasikan bahwa adanya kemungkinan untuk menghasilkan cincin logik seperti pintu logik NOR atau OR menggunakan susunan FETs nanotube tipe-p dan -n, yang sulit untuk mengontrol chiralitas tabung dengan sifat elektronik. Ollins dkk, menyatakan bahwa adanya kemungkinan untuk mengupas lapisan terluarMWNTs yang dihasilkan dari ­arc discharge sampai menghasilkan sifat elektronik yang diinginkan. Namun, penumbuhan yang dikontrol untuk mencapai chiralitas yang diinginkan akan diinvestigasi dan dieksplorasi untuk aplikasi elektrik yang lebih. Blase dkk, juga melakukan hipotesis yang sama dan mendemonstrasikan sifat elektronik CNT yang dapat dimanfaatkan dengan material polimerik untuk mewujudkan aplikasi elektrik yang diinginkan. 

5.9 Aplikasi CNTs di bidang medis
Memberikan keuntungan yang meningkat terkait dengan teknologi ilmu pengobatan yang berhubungan dengan terapi gen, perlakuan kanker, inovasi baru untuk penyakit yang mengancam kehidupan, ilmu nanomedicine yang berkembang dengan cepat. Sifat unik dan karakteristik CNTs memungkinkan secara sains untuk mengembangkan wilayah baru dalam nanomedicine. SWNTs dan MWNTs telah terbukti berpotensi untuk menjadi alternatif yang tepat dan efektif dari metode pengiriman obat sebelumnya. Mereka dapat melalui membran, membawa pengobatan terapeutik, vaksin, dan asam nukleus mendalam sampai ke target substrat. Mereka menjadi kendaraan ideal tanpa racun, dimana pada beberapa kasus, meningkatnya kelarutan obat, menghasilkan efisiensi yang tinggi dan aman. Secara keseluruhan, studi akhir-akhir ini tentang CNTs menunjukkan pengobatan yang sangat menjanjikan. 

6. Racun pada CNTs dan cara mengontrolnya
Disebabkan karena sifat fisika dan kimia yang luar biasa dari CNTs, pemakaiannya dalam industri telah sangat serius, tetapi masalah yang terjadi pada penggunaannya, khususnya masalah pada racun. CNTs dapat merugikan pada kesehatan manusia, khususnya paru-paru manusia, yang berada pada jalur terbuka. Banyaknya perhatian dari peneliti mengenai hal ini. Sehingga, merupakan tahap pasti yang harus diminimalkan adalah mengenai racun CNTs. Studi akhir-akhir ini menunjukkan bahwa panjang dan kekakuan nanotube CNTs sangat berpengaruh terhadap pro-perangsangan akibat CNTs. Namun, peneliti selanjutnya menentukan pengaruh yang mungkin dari sifat physiochemical yang lain. Karakteristik permukaan mempengaruhi pro-perangsangan akibat nanopartikel berbentuk bola, dapat diharapkan untuk menggabungkan CNTs dalam material polimerik yang akan memodifikasi sifat permukaan CNTs, dimana dapat mengubah racun tanpa mempengaruhi sifat dan potensial untuk digunakan dalam aplikasi selanjutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar